Abu Bakr Bergerak

Setelah kekalahan pasukan pengikut nabi palsu di Zhu Qissa, beberapa suku pengkiut nabi palsu melakukan tindakan keji dengan membantai anggota mereka yang tetap dalam Islam. Pembunuhan dilakukan tanpa belas kasihan, sebagian dibakar hidup-hidup dan sebagian dijatuhkan dari tepi jurang. Abu Bakr yang mendengar berita ini benar-benar marah dan bersumpah untuk memerangi setiap pemberontak yang membunuh muslim.

Keadaan sekarang berpihak pada pihak khalifah dan muslim. Kemenangan Abu Bakr dalam pertempuran-pertempuran kecilnya telah membangkitkan semangat. Beberapa suku di dekat Madinah yang mengikuti nabi palsu kembali pada keislamannya dan bersedia kembali membayar zakat dan pajak. Pasukan Usamah juga pulang dengan membawa keberhasilan dan banyak harta rampasan perang. Peti uang negara telah berisi kembali, menyediakan sebuah kesiapan finansial untuk melakukan perang besar-besaran dengan pemberontak.

Namun Abu Bakr memutuskan bahwa ia membutuhkan waktu sebelum melancarkan serangan umum dengan tujuan mengistirahatkan dan melengkapi Pasukan Usamah. Ia memerintahkan Usamah untuk mengistirahatkan pasukannya di Madinah sekaligus menjamin keamanan ibukota. Pasukan cadangan bentukannya juga dipersiapkan untuk bertempur. Sekarang Abu Bakr benar-benar mempersiapkan perang melawan kriminal pemberontak pengikut nabi-nabi palsu dan perang untuk menghukum para pembantai muslim yag tidak bersalah.

Abu Bakr mengumumkan keinginannya untuk memimpin pasukan menuju Abraq, senior-senior di kalangan muslim menahannya mengingat bahaya yang terlalu besar baginya jika memimpin sendiri. Namun Abu Bakr bersikeras memikul tugasnya itu tanpa diwakili. Sementara Pasukan Usamah beristirahat, Abu Bakr berangkat bersama pasukan kecilnya dan bergabung dengan pasukan Nu'man di Zhu Qissa. (Nu'man inilah yang nantinya akan terkenal sebagai pemenang dalam Niwahand di Persia). Pada pekan kedua Agustus-pekan ketiga Jumadil Awwal, pasukan pergi menuju Abraq.

Setiba di Abraq, pasukan musuh telah bersiap dalam formasi tempur. Abu Bakr menyusun formasi pasukannya seperti ketika serangan malam yang ia lakukan sebelumnya. Pertempuran segera terjadi. Semangat pasukan pengikut nabi palsu tidak lagi tinggi. Elemen yang sempat dikalahkan dalam serangan malam sebelumnya membawa dampak buruk bagi semangat tempur mereka. Tidak begitu lama, pasukan mereka yang lebih banyak terpecah dan terpukul mundur. Abu Bakr memenangkan pertempuran ini.

Pasukan yang kalah ini melarikan diri dari Abraq bersama beberapa suku-suku yang memberontak menuju Buzakha, tempat di mana Tulaiha berada setelah pindah dari Samira. Beberapa suku lain di sekitar Zhu Qissa menyatakan kembali pada Islam dan bersedia kembali berzakat serta membayar pajak ke ibukota.

Keesokan harinya, Khalifah Abu Bakr kembali ke Madinah. Beberapa hari di Madinah, ia mengatur berbagai urusan negara, kemudian dengan tambahan Pasukan Usamah, ia berangkat kembali ke Zhu Qissa. Pasukan ini sekarang telah menjadi Pasukan Islam mengingat komando tertinggi telah ada di tangan khalifah. Tugas Usamah telah selesai sebagai panglima.

Di Zhu Qissa, Abu Bakr megorganisasi Pasukan Islam dalam beberapa korp untuk berperang dengan berbagai elemen pemberontak yang menguasai mayoritas daerah Arab. Ini adalah untuk pertama kalinya Pasukan Isam diorganisasi dalam kelompok-kelompok terpisah, masing-masing dengan panglima dan misi yang khusus, tetapi semuanya di bawah komando strategis Khalifah Abu Bakr. Panglima-panglima muslim akan segera memasuki tingkatan yang lebih tinggi dalam dunia strategi dan menguasai dunia kestrategian itu secara fundamental. Kemampuan mereka setelah memerangi pemberontak ini akan segera memukau dunia.

Pekan keempat Agustus 632 M-awal Jumadil Akhir 11 H, rencana strategis Abu Bakr dalam EKspedisi Penumpasan Nabi Palsu dimulai. Pertempuran-pertempuran yang baru ia jalani di Zhu Qissa dan Abraq adalah aksi preventif untuk melindungi Madinah dan menutup kesempatan musuh untuk menyerang secara agresif, sekaligus memberikan tambahan waktu baginya untuk mempersiapkan pasukan dan meluncurkan pasukan utama. Dengan demikian, Abu Bakr telah mengamankan markas yng akan digunakannya untuk melakukan rencana perang berikutnya melawan pemberontak.

Abu Bakr menyadari bahwa ia harus menghadapi beberapa musuh sekaligus: Tulaiha di Buzakha, Malik bin Nuwaira di Butah, Musailima di Yamamah. Dia harus menghadapi pengikut-pengikut nabi palsu di selatan dan timur pantai semenanjung Arabia: Bahrain, Oman, Mahra, Hadramaut, Yaman. Sedangkan di utara, ia harus menghadapi serangan balasan dari Quza'ah yang dikalahkan Usamah beberapa saat sebelumnya.

Situasi Kekhalifahan Islam bisa diibaratkan seperti sebuah pulau di sebuah lautan pemberontak. Dalam jumlah, jumlah pemberontak jauh lebih banyak dari jumlah muslim, hanya saja mereka tidak bersatu. Kekuatan militer khalifah terletak pada rakyat muslimnya, petarung terbaik di masanya, dan ia juga memiliki senjata yang sangat luar biasa: Khalid ibn Al-Walid, Pedang Allah.

Strategi Abu Bakr adalah membagi pasukan dalam beberapa korp. Korp terkuat dan pemukul utama adalah korp Khalid. Korp ini akan bertempur melawan pasukan pemberontak terkuat. Korp-korp lainnya diutus ke daerah-daerah dengan pasukan pengikut nabi palsu yang tidak sekuat yang harus dihadapi Khalid. Mereka baru bergerak setalah kekuatan utama pemberontak dihancurkan. Dua korp diposisikan sebagai cadangan untuk memperkuat korp Khalid atau korp lainnya yang membutuhkan bantuan. Korp pertama yang bergerak adalah korp Khalid. Korp lainnya akan bergerak bergantung pada kemajuan misi korp Khalid karena korp Khalid akan bertempur melawan pasukan-pasukan pemberontak terkuat satu demi satu.

Rencana Abu Bakr adalah pertama, membersihka daerah barat-tengah Arab (daerah terdekat dengan Madinah), kemudian memukul Malik bin Nuwaira, dan akhirnya menghancurkan musuh terkuat, Musailima. Abu Bakr merencanakan untuk mengonsentrasikan pasukan di akhir dengan menggempur musuh di berbagai tempat terpisah dan berturut-turut, maju sedikit demi sedikit dari daerah terdekat sampai tiba di daerah terjauh.

Khalifah Abu Bakr membentuk 11 korp. Seti korp diberi bendera. Kekuatan pasukan yang tersedia didistribusikan sesuai kebutuhan. Sebagian panglima diberi tugas yang segera, sebagian diberi tugas yang harus dilakukan beberapa saat kemudian. Setiap panglima juga diinstruksikan untuk mengajak serta para pemberani di sepanjang jalan mereka. 11 panglima dan tugas mereka masing-masing adalah sebagai berikut.
1. Khalid: Pertama Tulaiha di Buzakha, kemudian Malik bin Nuwaira di Butah.
2. Ikrimah bin Abu Jahl: Melakukan kontak dengan Musailima di Yamamah, tetapi tidak sampai bertempur sebelum pasukan yang lebih banyak terkumpul.
3. Amr bin Al-Ash: Suku Quza'ah dan Wadi'a pengikut nabi palsu di daerah Tabuk dan Dawmatul Jandal.
4. Syurahbil bin Hasanah: Mengikuti Ikrimah dan menunggu instruksi dari khalifah.
5. Khalid bin Said: Suku-suku tertentu pengikut nabi palsu di perbatasan Syams (Syria)
6. Turaifa bin Hajiz: Suku Hawazin dan Bani Sulaym pengikut nabi palsu di daerah timur Madinah dan Makkah.
7. Ala bin Al-Hadhrami: Pengikut nabi palsu di Bahrain.
8. Hudzaifa bin Mihsan: Pengikut nabi palu di Oman.
9. Arfaja bin Harsama: Pangikut nabi palsu di Mahra.
10. Muhajir bin Abi Umayyah: Pengikut nabi palsu di Yaman, kemudian suku Kinda di Hadramaut.
11. Suwaid bin Muqaran: Pengikut nabi palsu di daerah pantai di utara Yaman.

Segera setelah pengorganisasian ini, korp Khalid berangkat. Beberapa saat kemudian diikuti oleh Ikrimah dan Amr bin Al-Ash. Korp-korp lainnya berangkat beberapa pekan atau bahkan beberapa bulan kemudian.

Sebelum operasi ini, Abu Bakr mendahulukan untuk mengirim utusan-utusan diplomasi ke semua suku-suku pemberontak sebagai usaha damai terakhir. Utusan-utusan ini diberi instruksi yang sama: mereka mengajak suku-suku tersebut untuk masuk Islam dan kembali patuh pada pemerintahan, mereka yang menerima akan diampuni, dan mereka yang menolak akan diperangi sampai tidak ada yang melawan.

Kepada panglima korp, Khalifah Abu Bakr juga memberi instruksi yang sama.
a. Carilah suku-suku yang menjadi tujuanmu
b. Panggil mereka dengan azan (panggilan shalat umat Islam)
c. Jika mereka memenuhi panggilan azan, jangan menyerang. Setelah azan, desak mereka untuk menyatakan penyerahan diri kembali pada Islam, termasuk kembali membayar zakat dan pajak. Jika mereka bersedia, jangan menyerang.
d. Mereka yang menyerahkan diri tidak akan disakiti.
e. Mereka yang tidak menjawab panggilan azan, atau setelah azan tidak menyatakan penyerahan diri akan menghadapi pedang (pertempuran atau hukuman)
f. Semua pengikut nabi palsu yang telah membunuh muslim harus dibunuh, mereka yang membakar muslim hidup-hidup harus dibakar hidup-hidup.

Dengan berbagai instruksinya ini, Abu Bakr tidak bisa lagi dinilai sebagai seorang yang lembek. Ia telah menunjukkan kemampuan awalnya sebagai pemimpin negara sekaligus pemimpin militer.

Komentar