Badai yang Berkumpul (Bagian 1)
Fenomena nabi palsu sebenarnya telah muncul sejak Muhammad hidup dan aksi pertama telah berhasil dilakukan ketika Muhammad hidup. Tetapi bahaya yang paling buruk sebenarnya datang setelah Muhammad wafat, ketika gelombang kemurtadan muncul di sepanjang Jazirah atau Semenanjung Arab. Hal ini harus dipadamkan oleh khalifah pertama pengganti Muhammad, Abu Bakr.
Kejadian utama yang muncul pertama kali ada di Yaman dan dikenal sebagai Insiden Aswad bin Al-Ansi. Aswad yang benama asli Abhala bin Ka'b adalah kepala suku Ans-a, suku besar yang tinggal di bagian barat Yaman. Ia adalah seorang yang cukup populer dan terkenal sebagai peramal.
Selama tahun ke-10 H, rakyat di bagian selatan dan tenggara Jazirah Arab telah masuk Islam. Muhammad telah mengirimkan beberapa utusan untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Namun mayoritas dari orang-orang ini tidak dengan sepenuh hati masuk Islam. Sebelum mereka masuk Islam, daerah ini dipimpin oleh seorang bangsawan perwakilan Kisra (Kaisar) Persia. Namanya adalah Bazan yang kemudian masuk Islam. Ia adalah orang yang cerdas dan provinsi ini makmur di bawah kepemimpinannya. Tetapi sesaat sebelum haji terakhir Muhammad, ia wafat. Muhammad kemudian menunjuk anak Bazan, Syahr, sebagai gubernur. Kedamaian masih terus berlanjut di Yaman.
Kemudian pada saat Muhammad melaksanakan haji terakhir, Aswad memutuskan bahwa ia akan menjadi nabi. Ia mengumpulkan sukunya, membacakan beberapa ayat, mengklaim bahwa itu adalah surat Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya, dan mengumumkan bahwa ia adalah rasul Allah.
Aswad memiliki seekor keledai yang ia latih untuk menuruti perintahnya, dan ia menggunakan keledainua ini seolah-olah bahwa ia memiliki kekuatan. Ia memberi perintah , "Berlututlah pada tuanmu", dan keledai itu pun menurutinya. Karena itu, ia dijuluki sebagai Dzul Himar 'Seseorang dengan Keledai'. Namun julukan lamanya tidak hilang, yaitu Dzul Khumar 'Si Pemabuk'. Ia dijuluki demikian karena ia sangat kecanduan alkohol. Namun, meskipun demikian, sukunya tetap mengikutinya dan memercayai bahwa ia adalah nabi yang sesungguhnya. Dalam kesalahan ini, beberapa suku lain di Yaman ikut bergabung.
Aswad mengorganisasi 700 kavaleri dan pergi menuju Najran. Ia mengambil sebuah kota tanpa kesulitan dan mengusir pemerintah muslim yang ada di sana. Percaya diri dengan kemudahan yang ia alami dalam merebut kota, ia meninggalkan seorang dari pengikutnya untuk memerintah kota dan Aswad sendiri bergerak menuju San'a. Syahr yang baru ditunjuk Muhammad untuk menjadi gubernur Yaman mulai mengetahui maksud Aswad dan bermaksud untuk menghadang Aswad sebelum ia mencapai San'a. Dengan mengorganisasi sebuah pasukan kecil (ia tidak memiliki banyak pasukan khusus), ia berangkat dan kedua pasukan bertemu tidak begitu jauh di utara San'a. Pertempuran berlangsung singkat dan berakhir dengan kemenangan Aswad. Syahr meninggalkan seorang istri yang cantik bernama Azad. Lima hari kemudian, ia memasuki San'a sebagai penakluk. Dia telah bekerja sangat cepat untuk misinya, hanya 25 hari sejak ia mulai mengumpulkan sukunya dan memproklamasikan kenabiannya.

Kebanyakan orang Yaman telah mengetahui namanya. Untuk mendapatkan kesenangan maksimal dari misi militer dan politiknya, Aswad menikahi secara paksa janda Syahr, Azad.
Setelah menaklukkan Najran dan San'a, Aswad telah menancapkan kekuatannya di tanah Yaman, banyak suku mulai menganggapnya sebagai pemimpin dan nabi. Dengan berkembangnya kekuasaan yang ia miliki, ia mulai bosan dengan gelar nabinya. Ia memberi gelar baru pada dirinya: Rahman bagi Yaman. Rahman berarti "Maha Pengasih" yang diketahui oleh muslim sebagai salah satu nama Tuhan. Azad bercerita pada temannya tentang Aswad, "Bagiku, tidak ada laki-laki yang paling aku benci selain dia (Aswad-pent)." Ia memberi perlakuan buruk kepada keluarga Bazan dari Persia yang pernah berkuasa di sana. Karena itu, ia sangat dibenci oleh keluarga Bazan, salah satunya adalah Fairuz Al-Deilami, sepupu Azad.
Mengetahui laporan lengkap tentang kondisi ini, Muhammad di Madinah telah mempersiapkan hukuman bagi Aswad. Muhammad mengirim Qais bin Hubayra untuk mengorganisasi pembunuhan Aswad. Qais tiba di San'a tanpa terdeteksi, dan berhasil meletakkan pondasi pergerakan bawah tanah. Ia juga melakukan kontak dengan Fairuz. Qais dan Fairuz menjadi otak organisasi yang bertujuan untuk membalas apa yang telah Aswad lakukan.
Pembunuhan Aswad bukanlah sebuah perkara mudah. Si Hitam (arti dari namanya, Aswad) memiliki badan yang besar, terkenal dengan kekuatan dan keberaniannya. Ia juga telah mencurigai ketidakloyalan Fairuz. Terlebih lagi, ia tinggal dalam istana yang berdinding tinggi, dijaga oleh pengikut-pengikutnya yang loyal. Hanya ada satu bagian diding yang bisa dicapai dengan tangga, yaitu di dekat ruangan Azad.
Fairuz melakukan kontak dengan Azad, mejelaskan tujuannya dan meminta bantuannya yang telah Azad janjikan. Azad melihat inilah jalan satu-satunya untuk keluar dari kehidupan yang ia benci.
Malam tanggal 30 Mei 632M-6 Rabiul Awwal 11H dipilih sebagai waktu pelaksanaan. Segera setelah tengah malam, Fairuz menaiki dinding. Azad yang telah menantinya menyuruh Fairuz untuk bersembunyi, menunggu kedatangan Aswad.
Tidak lama menjelang fajar, Azad keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruang Aswad di sebelah ruangannya. Ia mengetahui bahwa penjaga sedang tidak berada di tempat biasanya. Ia melihat ke dalam ruang Aswad dan kembali menemui Fairuz dan berbisik, "Sekarang! Dia sedang terbaring mabuk!"
Fairuz, diikuti Azad, berjalan pelan menuju ruang Aswad. Azad tetap di pintu, sedangkan Fairuz masuk ke ruang Aswad. Fairuz berhasil menyabet kepala Aswad dengan pedan. Azwad terlambat sadar bahwa ia akan dibunuh. Ia masih bisa berteriak.
Teriakannya menarik perhatian penjaga yang segera berlari menuju ruangan Aswad. Penjaga melihat Azad di pintu dan bertanya, "Apa yang terjadi dengan Rahman bagi Yaman?" Azad berkata dengan pelan, "Sssst! Ia sedang menerima wahyu dari Tuhan!" Penjaga mengangguk pelan dan menganggap perkataan Azad benar. Penjaga itu pun pergi.
Azad menunggu sampai penjaga telah jauh, dan kemudian segera memasuki ruangan. Ia melihat Fairuz berdiri di samping tempat tidur, menunggu kesempatan untuk memberi sabetan lagi. Kali ini, Azad membantu dan Fairuz berhasil memenggal Aswad. Dengan demikian, berakhirlah karir Abhala bin Ka'ab alias Si Hitam alias Seseorang dengan Keledai alias Si Pemabuk. Perilakunya selama tiga bulan terakhir telah berhasil dihentikan, enam hari sebelum Muhammad wafat.
Dengan kematian Aswad, pergerakannya hancur. Perlawanan muslim yang diorganisasi oleh Qais menjadi perlawanan masal untuk menghabisi pengikut Aswad. Banyak di antara pengikut Aswad terbunuh. Tetapi banyak juga yang melarikan diri dan membuat beberapa masalah bagi pemimpin muslim berikutnya. Di antara mereka ada juga yang kembali menjadi muslim, dan sebagian lagi ada yang menjadi nabi-nabi palsu. Fairuz ditunjuk sebagai gubernur San'a.
Utusan yang membawa kabar baik ini tiba di Madinah sesaat setelah wafatnya Muhammad. Berita tentang hancurnya gerakan Aswad sedikit menghibur hati muslim.
Namun, Madinah sekarang berada di ambang krisis emosional, spiritual, dan politik. Kehilangan Muhammad yang mereka cintai membuat mereka bagai dirundung bencana. Selama 10 tahun, Muhammad telah menjadi segalanya bagi mereka: panglima, pemimpin negara, hakim, guru, pembimbing, dan teman. Tidak ada aspek hidup yang tidak pernah ia rasakan.
Krisis ini diperparah dengan laporan pemberontakan yang menyebar di tanah Arab. Semua suku di Arab, kecuali suku-suku yang berada di Makkah dan Madinah serta Suku Tsaqif di Tha'if, memberontak terhadap otoritas politik dan agama di Madinah dan mereka membatalkan sumpah setia mereka. Nabi-nabi palsu bermunculan. Selaian Aswad, ada dua laki-laki penipu lagi (kemungkinan tiga) dan satu orang penipu perempuan. Kemudian ada juga beberapa kepala suku yang bergabung bersama mereka yang bersama-sama untuk mengembalikan masa perpecahan dan kebodohan di Arab.
Penyebab utama munculnya nabi-nabi palsu ini adalah kurangnya iman. Kebanyakan suku yang masuk Islam pada tahun ke-9 dan 10 H hanya masuk Islam karena alasan politik. Muslim sejati tentu saja kebanyakan berasal dari Makkah dan Madinah yang memang telah lebih lama menerima pengajaran langsung dari Muhammad.
Kekhawatiran bertambah di hati kaum muslim ketika Abu Bakr menjadi khalifah pertama dalam Islam. Abu Bakr tidak pernah menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin. Apa yang dibutuhkan pada saat itu adalah pemimpin yang kuat, kokoh, dan mampu memimpin. Dan apa yang bisa dilihat dari Abu Bakr? Seorang yang kecil, kurus, pucat, matanya selalu menunjukkan kesedihan. Seorang lelaki yang lembut, mudah tergerak dan terharu.
Ketika muslim berkumpul untuk bersumpah setia kepadanya, Abu Bakr berpidato untuk pertama kalinya sebagai Khalifah--sebuah pidato yang semakin memperdalam image lembut dan tidak menjanjikan kekuatan. Ia berkata,
"Segala puji bagi Allah! Saya telah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, tetapi saya bukanlah yang terbaik di antara kamu. Kalau saya berlaku benar, bantulah saya. Kalau saya berlaku salah, perbaikilah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya, jika Allah menghendaki (InsyaAllah-pent). Dan orang yang kuat di antara kamu, bagi saya adalah lemah sampai haknya nanti saya ambil, jika Allah menghendaki (InsyaAllah-pent). Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas ada suatu golongan, Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar perintah Allah dan Rasulullah, maka tidak ada kewajiban bagimu untuk mengikuti saya. Laksanakanlah shalatmu. Semoga Allah merahmati kamu sekalian!"
Kebaikan Abu Bakr dan pembelaannya pada Islam memang telah tersebar sangat luas. Keberanian pribadinya, pengorbanannya kepada Muhammad yang telah memberikannya gelar Ash-Shiddiq, prinsip-prinsip moralnya yang tinggi, dan keimanannya tidak perlu lagi dipertanyakan. Sebagai lelaki ketiga yang memeluk Islam, posisinya di antara 10 sahabat yang diberkahi sangat tinggi. Tetapi apakah kebaikan seperti itu cukup untuk sebuah kepemiminan di masa-masa yang kritis?
Dan ketika itu, ada pemberangkatan Pasukan Usamah. Sekitar pertengahan Mei 632 M, Muhammad telah memerintahkan sebuah ekspedisi besar untuk invasi ke Jordania. Sebagai panglima ekspedisi, Muhammad menunjuk Usamah--seorang pemuda berusia 22 tahun. Usamah adalah putra Zayd bin Haritsah, bekas budak yang diangkat sebagai anak oleh Muhammad. Zayd seperti yang telah diceritakan dalam bab Pertempuran Mu'tah telah gugur dalam tugasnya sebagai panglima dalam pertempuran tersebut. Meskipun Usamah adalah orang biasa dan tidak memiliki kedudukan penting di antara suku Quraisy, Muhammad memerintahkannya untuk memimpin para tetua dan bahkan prajurit-prajurit terkenal dari suku-suku terbaik. Pasukannya berkumpul di barat Uhud. Ini adalah ekspedisi terakhir yang dikirim oleh Muhammad; dan pasukan ini menandai perang terbuka dengan Romawi setelah pertemuan mereka di Mu'tah dan pertemuan yang gagal di Tabuk.
Usamah diperintahkan Muhammad untuk menyerbu pasukan Romawi di tempat ayahnya gugur, Mu'tah, Jordania. Ketika Muhammad wafat dan Abu Bakr bin Abu Quhafah menjadi khalifah, pasukan ini masih berada di perkemahannya.
Pada hari-hari berikutnya, Abu Bakr memerintahkan pasukan untuk bersiap untuk memulai perjalanan. Semua sahabat-sahabat (Muhammad) terdekat yang ada diperintahka untuk bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh anak muda itu. Bahkan Umar, teman terdekat Abu Bakr setelah Muhammad wafat, juga dikirim ke perkemahan tersebut.
Beberapa hari kemudian, pasukan tetap akan diberangkatkan dengan tujuannya yang semula meskipun kabar pemberontakan yang datang dari berbagai penjuru Arab telah diketahui oleh Abu Bakr dan warga ibukota, Madinah. Namun Usamah khawatir jika pasukan ini pergi, Madinah akan kehilangan perlindungan dari pemberontak-pemberontak yang mungkin akan bertindak agresif. Umar bersedia untuk berbicara dengan Abu Bakr. Teman-temannya meminta kepadanya agar Abu Bakr membatalkan ekspedisi ini atau setidaknya membiarkan para sahabat Muhammad yang terdekat menggantikan Usamah.
Umar adalah orang yang keras, berkepribadian kuat, dan ia akan berbicara dengan sahabat terdekatnya Abu Bakr yang berkepribadian lembut yang biasanya menerima apa yang Umar sarankan kepadanya. Umar datang dengan tenang dan percaya diri. Umar pun mengutarakan pendapatnya kepada Abu Bakr. Namun Abu Bakr menjawab dengan nada yang keras, "Wahai Ibnul Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah sebagai panglima. Dan Engkau ingin aku memberhentikannya dari posisi itu," dengan nada retoris, Abu Bakr menyelesaikan perkataannya yang menunjukkan kesetiaan luar biasa pada Muhammad dan menunjukkan pula kualitas kemauannya yang kuat yang bisa muncul ketika dibutuhkan sebagai seorang pemimpin.
Umar segera pulang ke perkemahan dan menyampaikan kabar tentang perintah Abu Bakr tersebut. Akhirnya, pada tanggal 24 Juni 632 M-1 Rabi'ul Akhir 11 H, Pasukan Usamah berangkat.
Pemberangkatan ini sebenarnya tetap sebuah kesalahan dalam situasi yang ada pada saat itu. Beberapa penulis muslim berpendapat bahwa itu adalah sebuah manuver yang bijaksana dari Abu Bakr karena ekspedisi ini menunjukkan kekuatan ibukota kepada para pemberontak dan mengurangi kesempatan terjadinya kekerasan yang lebih buruk. Tetapi sebenarnya, bukan itu yang sebenarnya terjadi. Meskipun Usamah menyelesaikan misinya dengan efisien dan cepat, operasinya tidak berdampak cukup besar pada pertempuran berikutnya melawan nabi-nabi palsu di masa yang akan segera datang. Pemberangkatan Pasukan Usamah lebih merupakan sebuah aksi keimanan kepada Muhammad daripada sebuah manuver militer dan politik.
Abu Bakr telah memutuskan pemberangkatan ini sebagai bentuk kesetiaannya pada perintah Muhammad. Namun, ini tidak menunjukkan kelemahannya dalam bidang militer karena stelah peristiwa ini, kepemimpinan dan petunjuknya akan sangat efektif dalam menghancurkan pemberontak dan bahkan memulai pondasi invasi ke Iraq-Persia dan Syam-Romawi.
Ekspedisi Usamah telah usai. Berita tersiar ke seluruh penjuru Arab dan konsentrasi perlawanan suku-suku pemberontak semakin serius hari demi hari. Para nabi palsu merasa sedikit lebih lega setelah mengetahui bahwa Abu Bakr-lah yang menjadi khalifah, bukan Umar yang terkenal keras atau Ali yang sangat hebat dalam pertempuran. Mereka hanya akan berhadapan dengan seorang tua yang baik!
bersambung...
Diringkas dari buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life and Campaigns karya A.I. Akram, 1969. Khalid menerima misi militer pertamanya dari khalifah baru, Abu Bakr.
12. Abu Bakr Bergerak (Bagian 1)
Kenabian palsu telah menjamur hingga mempengaruhi setiapm suku di Arab, kecuali suku-suku di Makkah, Madinah, dan Suku Tsaqif di Tha'if. Dalam beberapa kasus, suatu suku secara keseluruhan mengikuti nabi palsu, dan di lain kasus, dari suatu suku, sebagian tetap pada keislamannya, kebanyakan dengan bayaran nyawa mereka. Api kemurtadan dinyalakan oleh tiga nabi palsu, dua orang laki-laki: Tulaiha bin Khuwailid dan Musailima bin Habib, dan satu orang perempuan: Sajah binti Al-Harits. Ancaman langsung pada Madinah adalah Tulaiha yang diikuti oleh suku-suku di barat-tengah dan utara-tengah semenanjung Arab. Mereka adalah Ghatfan, Tayy, Hawazin, Bani Asad, dan Bani Sulaym.
Konsentrasi pemberontak yang paling dekat dengan Madinah adalah di Abraq, 113 km timur laut Madinah, dan Zhu Qissa, 39 km timur Madinah (lihat peta 8!). Di dua lokasi ini, tinggallah Suku Ghatfan, Hawazin, dan Tayy. Sepekan atau dua pekan setelah keberangkatan Pasukan Usamah, pengikut nabi palsu di Zhu Qissa megirim utusan kepada Abu Bakr. Mereka berkata bahwa mereka akan terus melakukan shalat, tetapi tidak mau lagi membayar zakat dan pajak. Namun Abu Bakr menolak dan bersumpah akan memerangi mereka jika mereka meninggalkan apa yang telah diwajibkan bagi seorang muslim. Abu Bakr memberikan mereka kesempatan untuk memberi jawaban keesokan harinya.

Namun utusan tersebut pulang sebelum memberi jawaban setelah menyadari bahwa Madinah tidak memiliki pasukan pertahanan dengan perginya Pasukan Usamah. Ini menunjukkan penolakan mereka pada permintaan Abu Bakr. Abu Bakr kemudian segera mengirim utusan-utusan ke berbagai suku yang murtad mengikuti nabi palsu untuk mengajak mereka kembali loyal pada Islam dan tetap membayar zakat serta pajak.
Kabar bahwa Madinah tidak memiliki pertahanan segera tiba di Zhu Qissa. Sementara Tulaiha yang berada di Samira telah mengirim pasukan bantuan ke Zhu Qissa yang dipimpin oleh saudaraya, Hibal. Mereka segera memutuskan untuk menyerang Madinah. Mereka berdiam di Zhu Hassa, dan pada pekan ketiga Juli 632 M-akhir Rabi'ul Awwal 11 H, mereka berangkat mendekati Madinah dan membuat kemah.
Abu Bakr menerima kabar pergerakan mereka dari mata-mata dan segera mengorganisasi pertahanan cadangan Madinah. Perkiraan pemberontak ternyata tidak sepenuhnya benar. Beberapa prajurit berpengalaman berada di Madinah, khususnya dari klan Bani Hasyim (klan Muhammad) yang masih berkabung. Abu Bakr segera membentuk pasukan baru yang di dalamnya terdapat pendekar-pendekar terbaik: Ali, Zubayr bin Al-Awwam, dan Talhah bin Ubaydullah. Mereka masing-masing memimpin sepertiga pasukan.
Selama tiga hari, tidak ada yang terjadi. Pengikut nabi palsu tetap tidak aktif. Abu Bakr memerintahkan pasukan pertahanan Madinah untuk keluar Madinah untuk menyerang. Mereka melancarkan serangan cepat ke perkemahan dan memukul munur musuh. Pasukan nabi palsu mundur ke Zhu Hussa. Kabar kemenangan disampaikan kepada Abu Bakr dan Abu Bakr memerintahkan mereka untuk tetap di posisi sampai Abu Bakr memberi instruksi lanjutan.
Keesokan harinya, Abu Bakr menyusul pasukan dengan unta-unta yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang karena unta-unta perang dibawa oleh Usamah. Setelah bertemu, Abu Bakr dan pasukan segera pergi menuju Zhu Hussa dengan unta-unta yang dibawa tadi.
Di Zhu Hussa, musuh menunggu. Hibal menunjukkan keahlian strateginya dengan menempatkan pasukannya di belakang sebuah bukit agak jauh ke depan markas ke arah datangnya pasukan muslim.
Pasukan muslim mengendarai unta pengangkut barang mereka bergerak menuju Zhu Hussa melewati bukit tempat bersembunyinya Hibal dan pasukannya. Setibanya mereka di bukit itu, pasukan Hibal dengan segera melempari muslim dengan kulit kambing yang diisi dengan air. Segera pasukan Hibal yang lain serentak memukul genderang dan memberikan teriakan pertempuran. Unta-unta pengangkut barang yang dikendarai muslim yang tidak terlatih dalam pertempuran dan tidak terbiasa dengan keributan seperti itu segera panik dan berlarian tanpa bisa dikendalikan. Pasukan musli berupaya mengendalikan unta-unta itu, tetapi tidak berhasil. Mereka pun harus pulang kembali ke Madinah.
Hibal berhasil membuat mundur pasukan muslim ke Madinah tanpa sedikitpun tembakan panah, apalagi tebasan pedang. Ada kemungkinan, mundurnya pasukan dari kemah di dekat Madinah merupakan tipuan untuk membuat pasukan muslim meninggalkan Madinah. Tetapi Hibal kali ini membuat kesalahan dengan mengira pasukan muslim ketakutan dan pulangnya mereka ke Madinah adalah suatu bentuk kelemahan. Ia tidak tahu bahwa pasukan muslim mengendarai unta pengangkut barang. Pasukan sisanya yang berada di Zhu Qissa dikabarkan tentang keberhasilan ini dan mereka dipanggil untuk bergabung. Malam hari pada hari yang sama, pasukan pengikut nabi palsu berkumpul dengan kekuatan penuh dan membuat kemah baru di dekat Madinah.
Abu Bakr bermaksud menyerang sebelum pasukan musuh menyelesaikan persiapan mereka. Abu Bakr menginstruksikan muslim untuk mereorganisasi pasukan kecil mereka semalaman. Di akhir malam, Abu Bakr memimpin pasukannya keluar Madinah. Ia membuat formasi tempur dengan sebuah pasukan tengah, dua sayap, dan sebuah pertahanan belakang. Pasukan tengah langsung ia pimpin sendiri, sayap kiri dipimpin oleh Nu'man, sayap kanan dipimpin oleh Abdullah, dan pertahanan belakang dipimpin oleh Suwaid, ketiganya adalah anak Muqaran. Sebelum fajar, pasukan telah bergerak ke kemah musuh yang sedang beristirahat dengan tenang, percaya diri akan kemenangan mereka.
Kali ini Hibal dan pasukannya yang terkejut. Belum sempat sinar matahari pagi menyingsing, teriakan pertempuran pasukan muslim berbunyi dan serangan pun dimulai. Pasukan pengikut nabi palsu tidak mampu memberi perlawanan. Banyak di antara mereka terbunuh, tetapi lebih banyak lagi yng bisa melarikan diri menuju Zhu Qissa untuk kembali mereorganisasi pasukan. Namun kali ini, semangat mereka telah mulai pudar.
Abu Bakr menang dalam kesempatan kali ini, dan bukan sekedar keberhasilan tempur belaka. Ini adalah aksi taktis berdarah dengan hasil terpukul mundurnya musuh. Abu Bakr telah menyerang ketika musuh tidak siap dan mendapatkan keuntungan dengan mengejutkan pasukan musuh untuk mengurangi pengaruh negatif dari jumlah pasukannya yang sangat sedikit. Satu hal yang menarik adala bahwa dalam pertempuran kali ini, muslim untuk pertama kalinya melakukan serangan malam, sebuah taktik tempur yang tidak populer sebelum Perang Dunia I.
Hari itu juga, tangal 30 Juli 632 M-8 Jumadil Awwal 11 H, Abu Bakr tidak menyia-nyiakan efek kejutan yang ia berikan dalam serangan malam itu. Segera setelah matahari terbit, ia langsung memimpin pasukannya menuju Zhu Qissa. Setibanya, ia membentuk formasi yang sama dengan malam sebelumnya dan langsung melancarkan serangan. Pasukan musuh melawab, namun moral mereka telah menurun drastis. Mereka segera mundur dari Zhu Qissa menuju Abraq yang memiliki lebih banyak pasukan dari Suk Ghatfan, Hawazin, dan Tayy. Abu Bakr menyusun pasukan kecil dipimpin oleh Talhah bin Ubaydullah untuk mengejar pasukan musuh yang mundur, tetapi tidak memberi banyak korban karena jumlah mereka yang sedikit.
Abu Bakr pulang ke Madinah dan memerintahan Nu'man dan pasukannya untuk berjaga di Zhu Qissa. Pada tanggal 2 Agustus, Pasukan Usamah kembali ke Madinah, dan ibukota pun tidak lagi dalam bahaya.
Sumber
Fenomena nabi palsu sebenarnya telah muncul sejak Muhammad hidup dan aksi pertama telah berhasil dilakukan ketika Muhammad hidup. Tetapi bahaya yang paling buruk sebenarnya datang setelah Muhammad wafat, ketika gelombang kemurtadan muncul di sepanjang Jazirah atau Semenanjung Arab. Hal ini harus dipadamkan oleh khalifah pertama pengganti Muhammad, Abu Bakr.
Kejadian utama yang muncul pertama kali ada di Yaman dan dikenal sebagai Insiden Aswad bin Al-Ansi. Aswad yang benama asli Abhala bin Ka'b adalah kepala suku Ans-a, suku besar yang tinggal di bagian barat Yaman. Ia adalah seorang yang cukup populer dan terkenal sebagai peramal.
Selama tahun ke-10 H, rakyat di bagian selatan dan tenggara Jazirah Arab telah masuk Islam. Muhammad telah mengirimkan beberapa utusan untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Namun mayoritas dari orang-orang ini tidak dengan sepenuh hati masuk Islam. Sebelum mereka masuk Islam, daerah ini dipimpin oleh seorang bangsawan perwakilan Kisra (Kaisar) Persia. Namanya adalah Bazan yang kemudian masuk Islam. Ia adalah orang yang cerdas dan provinsi ini makmur di bawah kepemimpinannya. Tetapi sesaat sebelum haji terakhir Muhammad, ia wafat. Muhammad kemudian menunjuk anak Bazan, Syahr, sebagai gubernur. Kedamaian masih terus berlanjut di Yaman.
Kemudian pada saat Muhammad melaksanakan haji terakhir, Aswad memutuskan bahwa ia akan menjadi nabi. Ia mengumpulkan sukunya, membacakan beberapa ayat, mengklaim bahwa itu adalah surat Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya, dan mengumumkan bahwa ia adalah rasul Allah.
Aswad memiliki seekor keledai yang ia latih untuk menuruti perintahnya, dan ia menggunakan keledainua ini seolah-olah bahwa ia memiliki kekuatan. Ia memberi perintah , "Berlututlah pada tuanmu", dan keledai itu pun menurutinya. Karena itu, ia dijuluki sebagai Dzul Himar 'Seseorang dengan Keledai'. Namun julukan lamanya tidak hilang, yaitu Dzul Khumar 'Si Pemabuk'. Ia dijuluki demikian karena ia sangat kecanduan alkohol. Namun, meskipun demikian, sukunya tetap mengikutinya dan memercayai bahwa ia adalah nabi yang sesungguhnya. Dalam kesalahan ini, beberapa suku lain di Yaman ikut bergabung.
Aswad mengorganisasi 700 kavaleri dan pergi menuju Najran. Ia mengambil sebuah kota tanpa kesulitan dan mengusir pemerintah muslim yang ada di sana. Percaya diri dengan kemudahan yang ia alami dalam merebut kota, ia meninggalkan seorang dari pengikutnya untuk memerintah kota dan Aswad sendiri bergerak menuju San'a. Syahr yang baru ditunjuk Muhammad untuk menjadi gubernur Yaman mulai mengetahui maksud Aswad dan bermaksud untuk menghadang Aswad sebelum ia mencapai San'a. Dengan mengorganisasi sebuah pasukan kecil (ia tidak memiliki banyak pasukan khusus), ia berangkat dan kedua pasukan bertemu tidak begitu jauh di utara San'a. Pertempuran berlangsung singkat dan berakhir dengan kemenangan Aswad. Syahr meninggalkan seorang istri yang cantik bernama Azad. Lima hari kemudian, ia memasuki San'a sebagai penakluk. Dia telah bekerja sangat cepat untuk misinya, hanya 25 hari sejak ia mulai mengumpulkan sukunya dan memproklamasikan kenabiannya.
Kebanyakan orang Yaman telah mengetahui namanya. Untuk mendapatkan kesenangan maksimal dari misi militer dan politiknya, Aswad menikahi secara paksa janda Syahr, Azad.
Setelah menaklukkan Najran dan San'a, Aswad telah menancapkan kekuatannya di tanah Yaman, banyak suku mulai menganggapnya sebagai pemimpin dan nabi. Dengan berkembangnya kekuasaan yang ia miliki, ia mulai bosan dengan gelar nabinya. Ia memberi gelar baru pada dirinya: Rahman bagi Yaman. Rahman berarti "Maha Pengasih" yang diketahui oleh muslim sebagai salah satu nama Tuhan. Azad bercerita pada temannya tentang Aswad, "Bagiku, tidak ada laki-laki yang paling aku benci selain dia (Aswad-pent)." Ia memberi perlakuan buruk kepada keluarga Bazan dari Persia yang pernah berkuasa di sana. Karena itu, ia sangat dibenci oleh keluarga Bazan, salah satunya adalah Fairuz Al-Deilami, sepupu Azad.
Mengetahui laporan lengkap tentang kondisi ini, Muhammad di Madinah telah mempersiapkan hukuman bagi Aswad. Muhammad mengirim Qais bin Hubayra untuk mengorganisasi pembunuhan Aswad. Qais tiba di San'a tanpa terdeteksi, dan berhasil meletakkan pondasi pergerakan bawah tanah. Ia juga melakukan kontak dengan Fairuz. Qais dan Fairuz menjadi otak organisasi yang bertujuan untuk membalas apa yang telah Aswad lakukan.
Pembunuhan Aswad bukanlah sebuah perkara mudah. Si Hitam (arti dari namanya, Aswad) memiliki badan yang besar, terkenal dengan kekuatan dan keberaniannya. Ia juga telah mencurigai ketidakloyalan Fairuz. Terlebih lagi, ia tinggal dalam istana yang berdinding tinggi, dijaga oleh pengikut-pengikutnya yang loyal. Hanya ada satu bagian diding yang bisa dicapai dengan tangga, yaitu di dekat ruangan Azad.
Fairuz melakukan kontak dengan Azad, mejelaskan tujuannya dan meminta bantuannya yang telah Azad janjikan. Azad melihat inilah jalan satu-satunya untuk keluar dari kehidupan yang ia benci.
Malam tanggal 30 Mei 632M-6 Rabiul Awwal 11H dipilih sebagai waktu pelaksanaan. Segera setelah tengah malam, Fairuz menaiki dinding. Azad yang telah menantinya menyuruh Fairuz untuk bersembunyi, menunggu kedatangan Aswad.
Tidak lama menjelang fajar, Azad keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruang Aswad di sebelah ruangannya. Ia mengetahui bahwa penjaga sedang tidak berada di tempat biasanya. Ia melihat ke dalam ruang Aswad dan kembali menemui Fairuz dan berbisik, "Sekarang! Dia sedang terbaring mabuk!"
Fairuz, diikuti Azad, berjalan pelan menuju ruang Aswad. Azad tetap di pintu, sedangkan Fairuz masuk ke ruang Aswad. Fairuz berhasil menyabet kepala Aswad dengan pedan. Azwad terlambat sadar bahwa ia akan dibunuh. Ia masih bisa berteriak.
Teriakannya menarik perhatian penjaga yang segera berlari menuju ruangan Aswad. Penjaga melihat Azad di pintu dan bertanya, "Apa yang terjadi dengan Rahman bagi Yaman?" Azad berkata dengan pelan, "Sssst! Ia sedang menerima wahyu dari Tuhan!" Penjaga mengangguk pelan dan menganggap perkataan Azad benar. Penjaga itu pun pergi.
Azad menunggu sampai penjaga telah jauh, dan kemudian segera memasuki ruangan. Ia melihat Fairuz berdiri di samping tempat tidur, menunggu kesempatan untuk memberi sabetan lagi. Kali ini, Azad membantu dan Fairuz berhasil memenggal Aswad. Dengan demikian, berakhirlah karir Abhala bin Ka'ab alias Si Hitam alias Seseorang dengan Keledai alias Si Pemabuk. Perilakunya selama tiga bulan terakhir telah berhasil dihentikan, enam hari sebelum Muhammad wafat.
Dengan kematian Aswad, pergerakannya hancur. Perlawanan muslim yang diorganisasi oleh Qais menjadi perlawanan masal untuk menghabisi pengikut Aswad. Banyak di antara pengikut Aswad terbunuh. Tetapi banyak juga yang melarikan diri dan membuat beberapa masalah bagi pemimpin muslim berikutnya. Di antara mereka ada juga yang kembali menjadi muslim, dan sebagian lagi ada yang menjadi nabi-nabi palsu. Fairuz ditunjuk sebagai gubernur San'a.
Utusan yang membawa kabar baik ini tiba di Madinah sesaat setelah wafatnya Muhammad. Berita tentang hancurnya gerakan Aswad sedikit menghibur hati muslim.
Namun, Madinah sekarang berada di ambang krisis emosional, spiritual, dan politik. Kehilangan Muhammad yang mereka cintai membuat mereka bagai dirundung bencana. Selama 10 tahun, Muhammad telah menjadi segalanya bagi mereka: panglima, pemimpin negara, hakim, guru, pembimbing, dan teman. Tidak ada aspek hidup yang tidak pernah ia rasakan.
Krisis ini diperparah dengan laporan pemberontakan yang menyebar di tanah Arab. Semua suku di Arab, kecuali suku-suku yang berada di Makkah dan Madinah serta Suku Tsaqif di Tha'if, memberontak terhadap otoritas politik dan agama di Madinah dan mereka membatalkan sumpah setia mereka. Nabi-nabi palsu bermunculan. Selaian Aswad, ada dua laki-laki penipu lagi (kemungkinan tiga) dan satu orang penipu perempuan. Kemudian ada juga beberapa kepala suku yang bergabung bersama mereka yang bersama-sama untuk mengembalikan masa perpecahan dan kebodohan di Arab.
Penyebab utama munculnya nabi-nabi palsu ini adalah kurangnya iman. Kebanyakan suku yang masuk Islam pada tahun ke-9 dan 10 H hanya masuk Islam karena alasan politik. Muslim sejati tentu saja kebanyakan berasal dari Makkah dan Madinah yang memang telah lebih lama menerima pengajaran langsung dari Muhammad.
Kekhawatiran bertambah di hati kaum muslim ketika Abu Bakr menjadi khalifah pertama dalam Islam. Abu Bakr tidak pernah menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin. Apa yang dibutuhkan pada saat itu adalah pemimpin yang kuat, kokoh, dan mampu memimpin. Dan apa yang bisa dilihat dari Abu Bakr? Seorang yang kecil, kurus, pucat, matanya selalu menunjukkan kesedihan. Seorang lelaki yang lembut, mudah tergerak dan terharu.
Ketika muslim berkumpul untuk bersumpah setia kepadanya, Abu Bakr berpidato untuk pertama kalinya sebagai Khalifah--sebuah pidato yang semakin memperdalam image lembut dan tidak menjanjikan kekuatan. Ia berkata,
"Segala puji bagi Allah! Saya telah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, tetapi saya bukanlah yang terbaik di antara kamu. Kalau saya berlaku benar, bantulah saya. Kalau saya berlaku salah, perbaikilah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya, jika Allah menghendaki (InsyaAllah-pent). Dan orang yang kuat di antara kamu, bagi saya adalah lemah sampai haknya nanti saya ambil, jika Allah menghendaki (InsyaAllah-pent). Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas ada suatu golongan, Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar perintah Allah dan Rasulullah, maka tidak ada kewajiban bagimu untuk mengikuti saya. Laksanakanlah shalatmu. Semoga Allah merahmati kamu sekalian!"
Kebaikan Abu Bakr dan pembelaannya pada Islam memang telah tersebar sangat luas. Keberanian pribadinya, pengorbanannya kepada Muhammad yang telah memberikannya gelar Ash-Shiddiq, prinsip-prinsip moralnya yang tinggi, dan keimanannya tidak perlu lagi dipertanyakan. Sebagai lelaki ketiga yang memeluk Islam, posisinya di antara 10 sahabat yang diberkahi sangat tinggi. Tetapi apakah kebaikan seperti itu cukup untuk sebuah kepemiminan di masa-masa yang kritis?
Dan ketika itu, ada pemberangkatan Pasukan Usamah. Sekitar pertengahan Mei 632 M, Muhammad telah memerintahkan sebuah ekspedisi besar untuk invasi ke Jordania. Sebagai panglima ekspedisi, Muhammad menunjuk Usamah--seorang pemuda berusia 22 tahun. Usamah adalah putra Zayd bin Haritsah, bekas budak yang diangkat sebagai anak oleh Muhammad. Zayd seperti yang telah diceritakan dalam bab Pertempuran Mu'tah telah gugur dalam tugasnya sebagai panglima dalam pertempuran tersebut. Meskipun Usamah adalah orang biasa dan tidak memiliki kedudukan penting di antara suku Quraisy, Muhammad memerintahkannya untuk memimpin para tetua dan bahkan prajurit-prajurit terkenal dari suku-suku terbaik. Pasukannya berkumpul di barat Uhud. Ini adalah ekspedisi terakhir yang dikirim oleh Muhammad; dan pasukan ini menandai perang terbuka dengan Romawi setelah pertemuan mereka di Mu'tah dan pertemuan yang gagal di Tabuk.
Usamah diperintahkan Muhammad untuk menyerbu pasukan Romawi di tempat ayahnya gugur, Mu'tah, Jordania. Ketika Muhammad wafat dan Abu Bakr bin Abu Quhafah menjadi khalifah, pasukan ini masih berada di perkemahannya.
Pada hari-hari berikutnya, Abu Bakr memerintahkan pasukan untuk bersiap untuk memulai perjalanan. Semua sahabat-sahabat (Muhammad) terdekat yang ada diperintahka untuk bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh anak muda itu. Bahkan Umar, teman terdekat Abu Bakr setelah Muhammad wafat, juga dikirim ke perkemahan tersebut.
Beberapa hari kemudian, pasukan tetap akan diberangkatkan dengan tujuannya yang semula meskipun kabar pemberontakan yang datang dari berbagai penjuru Arab telah diketahui oleh Abu Bakr dan warga ibukota, Madinah. Namun Usamah khawatir jika pasukan ini pergi, Madinah akan kehilangan perlindungan dari pemberontak-pemberontak yang mungkin akan bertindak agresif. Umar bersedia untuk berbicara dengan Abu Bakr. Teman-temannya meminta kepadanya agar Abu Bakr membatalkan ekspedisi ini atau setidaknya membiarkan para sahabat Muhammad yang terdekat menggantikan Usamah.
Umar adalah orang yang keras, berkepribadian kuat, dan ia akan berbicara dengan sahabat terdekatnya Abu Bakr yang berkepribadian lembut yang biasanya menerima apa yang Umar sarankan kepadanya. Umar datang dengan tenang dan percaya diri. Umar pun mengutarakan pendapatnya kepada Abu Bakr. Namun Abu Bakr menjawab dengan nada yang keras, "Wahai Ibnul Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah sebagai panglima. Dan Engkau ingin aku memberhentikannya dari posisi itu," dengan nada retoris, Abu Bakr menyelesaikan perkataannya yang menunjukkan kesetiaan luar biasa pada Muhammad dan menunjukkan pula kualitas kemauannya yang kuat yang bisa muncul ketika dibutuhkan sebagai seorang pemimpin.
Umar segera pulang ke perkemahan dan menyampaikan kabar tentang perintah Abu Bakr tersebut. Akhirnya, pada tanggal 24 Juni 632 M-1 Rabi'ul Akhir 11 H, Pasukan Usamah berangkat.
Pemberangkatan ini sebenarnya tetap sebuah kesalahan dalam situasi yang ada pada saat itu. Beberapa penulis muslim berpendapat bahwa itu adalah sebuah manuver yang bijaksana dari Abu Bakr karena ekspedisi ini menunjukkan kekuatan ibukota kepada para pemberontak dan mengurangi kesempatan terjadinya kekerasan yang lebih buruk. Tetapi sebenarnya, bukan itu yang sebenarnya terjadi. Meskipun Usamah menyelesaikan misinya dengan efisien dan cepat, operasinya tidak berdampak cukup besar pada pertempuran berikutnya melawan nabi-nabi palsu di masa yang akan segera datang. Pemberangkatan Pasukan Usamah lebih merupakan sebuah aksi keimanan kepada Muhammad daripada sebuah manuver militer dan politik.
Abu Bakr telah memutuskan pemberangkatan ini sebagai bentuk kesetiaannya pada perintah Muhammad. Namun, ini tidak menunjukkan kelemahannya dalam bidang militer karena stelah peristiwa ini, kepemimpinan dan petunjuknya akan sangat efektif dalam menghancurkan pemberontak dan bahkan memulai pondasi invasi ke Iraq-Persia dan Syam-Romawi.
Ekspedisi Usamah telah usai. Berita tersiar ke seluruh penjuru Arab dan konsentrasi perlawanan suku-suku pemberontak semakin serius hari demi hari. Para nabi palsu merasa sedikit lebih lega setelah mengetahui bahwa Abu Bakr-lah yang menjadi khalifah, bukan Umar yang terkenal keras atau Ali yang sangat hebat dalam pertempuran. Mereka hanya akan berhadapan dengan seorang tua yang baik!
bersambung...
Diringkas dari buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life and Campaigns karya A.I. Akram, 1969. Khalid menerima misi militer pertamanya dari khalifah baru, Abu Bakr.
12. Abu Bakr Bergerak (Bagian 1)
Kenabian palsu telah menjamur hingga mempengaruhi setiapm suku di Arab, kecuali suku-suku di Makkah, Madinah, dan Suku Tsaqif di Tha'if. Dalam beberapa kasus, suatu suku secara keseluruhan mengikuti nabi palsu, dan di lain kasus, dari suatu suku, sebagian tetap pada keislamannya, kebanyakan dengan bayaran nyawa mereka. Api kemurtadan dinyalakan oleh tiga nabi palsu, dua orang laki-laki: Tulaiha bin Khuwailid dan Musailima bin Habib, dan satu orang perempuan: Sajah binti Al-Harits. Ancaman langsung pada Madinah adalah Tulaiha yang diikuti oleh suku-suku di barat-tengah dan utara-tengah semenanjung Arab. Mereka adalah Ghatfan, Tayy, Hawazin, Bani Asad, dan Bani Sulaym.
Konsentrasi pemberontak yang paling dekat dengan Madinah adalah di Abraq, 113 km timur laut Madinah, dan Zhu Qissa, 39 km timur Madinah (lihat peta 8!). Di dua lokasi ini, tinggallah Suku Ghatfan, Hawazin, dan Tayy. Sepekan atau dua pekan setelah keberangkatan Pasukan Usamah, pengikut nabi palsu di Zhu Qissa megirim utusan kepada Abu Bakr. Mereka berkata bahwa mereka akan terus melakukan shalat, tetapi tidak mau lagi membayar zakat dan pajak. Namun Abu Bakr menolak dan bersumpah akan memerangi mereka jika mereka meninggalkan apa yang telah diwajibkan bagi seorang muslim. Abu Bakr memberikan mereka kesempatan untuk memberi jawaban keesokan harinya.
Namun utusan tersebut pulang sebelum memberi jawaban setelah menyadari bahwa Madinah tidak memiliki pasukan pertahanan dengan perginya Pasukan Usamah. Ini menunjukkan penolakan mereka pada permintaan Abu Bakr. Abu Bakr kemudian segera mengirim utusan-utusan ke berbagai suku yang murtad mengikuti nabi palsu untuk mengajak mereka kembali loyal pada Islam dan tetap membayar zakat serta pajak.
Kabar bahwa Madinah tidak memiliki pertahanan segera tiba di Zhu Qissa. Sementara Tulaiha yang berada di Samira telah mengirim pasukan bantuan ke Zhu Qissa yang dipimpin oleh saudaraya, Hibal. Mereka segera memutuskan untuk menyerang Madinah. Mereka berdiam di Zhu Hassa, dan pada pekan ketiga Juli 632 M-akhir Rabi'ul Awwal 11 H, mereka berangkat mendekati Madinah dan membuat kemah.
Abu Bakr menerima kabar pergerakan mereka dari mata-mata dan segera mengorganisasi pertahanan cadangan Madinah. Perkiraan pemberontak ternyata tidak sepenuhnya benar. Beberapa prajurit berpengalaman berada di Madinah, khususnya dari klan Bani Hasyim (klan Muhammad) yang masih berkabung. Abu Bakr segera membentuk pasukan baru yang di dalamnya terdapat pendekar-pendekar terbaik: Ali, Zubayr bin Al-Awwam, dan Talhah bin Ubaydullah. Mereka masing-masing memimpin sepertiga pasukan.
Selama tiga hari, tidak ada yang terjadi. Pengikut nabi palsu tetap tidak aktif. Abu Bakr memerintahkan pasukan pertahanan Madinah untuk keluar Madinah untuk menyerang. Mereka melancarkan serangan cepat ke perkemahan dan memukul munur musuh. Pasukan nabi palsu mundur ke Zhu Hussa. Kabar kemenangan disampaikan kepada Abu Bakr dan Abu Bakr memerintahkan mereka untuk tetap di posisi sampai Abu Bakr memberi instruksi lanjutan.
Keesokan harinya, Abu Bakr menyusul pasukan dengan unta-unta yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang karena unta-unta perang dibawa oleh Usamah. Setelah bertemu, Abu Bakr dan pasukan segera pergi menuju Zhu Hussa dengan unta-unta yang dibawa tadi.
Di Zhu Hussa, musuh menunggu. Hibal menunjukkan keahlian strateginya dengan menempatkan pasukannya di belakang sebuah bukit agak jauh ke depan markas ke arah datangnya pasukan muslim.
Pasukan muslim mengendarai unta pengangkut barang mereka bergerak menuju Zhu Hussa melewati bukit tempat bersembunyinya Hibal dan pasukannya. Setibanya mereka di bukit itu, pasukan Hibal dengan segera melempari muslim dengan kulit kambing yang diisi dengan air. Segera pasukan Hibal yang lain serentak memukul genderang dan memberikan teriakan pertempuran. Unta-unta pengangkut barang yang dikendarai muslim yang tidak terlatih dalam pertempuran dan tidak terbiasa dengan keributan seperti itu segera panik dan berlarian tanpa bisa dikendalikan. Pasukan musli berupaya mengendalikan unta-unta itu, tetapi tidak berhasil. Mereka pun harus pulang kembali ke Madinah.
Hibal berhasil membuat mundur pasukan muslim ke Madinah tanpa sedikitpun tembakan panah, apalagi tebasan pedang. Ada kemungkinan, mundurnya pasukan dari kemah di dekat Madinah merupakan tipuan untuk membuat pasukan muslim meninggalkan Madinah. Tetapi Hibal kali ini membuat kesalahan dengan mengira pasukan muslim ketakutan dan pulangnya mereka ke Madinah adalah suatu bentuk kelemahan. Ia tidak tahu bahwa pasukan muslim mengendarai unta pengangkut barang. Pasukan sisanya yang berada di Zhu Qissa dikabarkan tentang keberhasilan ini dan mereka dipanggil untuk bergabung. Malam hari pada hari yang sama, pasukan pengikut nabi palsu berkumpul dengan kekuatan penuh dan membuat kemah baru di dekat Madinah.
Abu Bakr bermaksud menyerang sebelum pasukan musuh menyelesaikan persiapan mereka. Abu Bakr menginstruksikan muslim untuk mereorganisasi pasukan kecil mereka semalaman. Di akhir malam, Abu Bakr memimpin pasukannya keluar Madinah. Ia membuat formasi tempur dengan sebuah pasukan tengah, dua sayap, dan sebuah pertahanan belakang. Pasukan tengah langsung ia pimpin sendiri, sayap kiri dipimpin oleh Nu'man, sayap kanan dipimpin oleh Abdullah, dan pertahanan belakang dipimpin oleh Suwaid, ketiganya adalah anak Muqaran. Sebelum fajar, pasukan telah bergerak ke kemah musuh yang sedang beristirahat dengan tenang, percaya diri akan kemenangan mereka.
Kali ini Hibal dan pasukannya yang terkejut. Belum sempat sinar matahari pagi menyingsing, teriakan pertempuran pasukan muslim berbunyi dan serangan pun dimulai. Pasukan pengikut nabi palsu tidak mampu memberi perlawanan. Banyak di antara mereka terbunuh, tetapi lebih banyak lagi yng bisa melarikan diri menuju Zhu Qissa untuk kembali mereorganisasi pasukan. Namun kali ini, semangat mereka telah mulai pudar.
Abu Bakr menang dalam kesempatan kali ini, dan bukan sekedar keberhasilan tempur belaka. Ini adalah aksi taktis berdarah dengan hasil terpukul mundurnya musuh. Abu Bakr telah menyerang ketika musuh tidak siap dan mendapatkan keuntungan dengan mengejutkan pasukan musuh untuk mengurangi pengaruh negatif dari jumlah pasukannya yang sangat sedikit. Satu hal yang menarik adala bahwa dalam pertempuran kali ini, muslim untuk pertama kalinya melakukan serangan malam, sebuah taktik tempur yang tidak populer sebelum Perang Dunia I.
Hari itu juga, tangal 30 Juli 632 M-8 Jumadil Awwal 11 H, Abu Bakr tidak menyia-nyiakan efek kejutan yang ia berikan dalam serangan malam itu. Segera setelah matahari terbit, ia langsung memimpin pasukannya menuju Zhu Qissa. Setibanya, ia membentuk formasi yang sama dengan malam sebelumnya dan langsung melancarkan serangan. Pasukan musuh melawab, namun moral mereka telah menurun drastis. Mereka segera mundur dari Zhu Qissa menuju Abraq yang memiliki lebih banyak pasukan dari Suk Ghatfan, Hawazin, dan Tayy. Abu Bakr menyusun pasukan kecil dipimpin oleh Talhah bin Ubaydullah untuk mengejar pasukan musuh yang mundur, tetapi tidak memberi banyak korban karena jumlah mereka yang sedikit.
Abu Bakr pulang ke Madinah dan memerintahan Nu'man dan pasukannya untuk berjaga di Zhu Qissa. Pada tanggal 2 Agustus, Pasukan Usamah kembali ke Madinah, dan ibukota pun tidak lagi dalam bahaya.
Sumber
Komentar
Posting Komentar