Perjanjian gencatan senjata "Hudaybiyah" disepakati pada awal April 628 M-Dzulqa'dah 6 H antara pihak Makkah dan pihak Madinah. Kesepakatan ini diawali dari pergerakan Muhammad bersama calon haji dari Madinah yang akan pergi menuju Ka'bah di Makkah di pertengahan Maret tahun yang sama. Ia pergi bersama 1.400 peziarah yang dilengkapi senjata untuk melindungi diri, bukan untuk bertempur. Mereka membawa cukup banyak hewan qurban.
Namun Quraisy Makkah khawatir jika kedatangan muslim adalah untuk bertempur. Konsekuensinya, Quraisy Makkah mengonsentrasikan perkemahan pasukan di luar Makkah. Khalid diutus dengan 300 pasukan kavalerinya untuk menahan pergerakan para jama'ah haji muslim yang dianggap sebagai pasukan tempur. Ia berencana untuk melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan untuk menghambat pergerakan muslim. Ia pun menunggu bersama pasukannya di Kuraul Ghamim, 24 km dari Usfan.
Ketika muslim tiba di Usfan, 20 orang berkuda mendahului jama'ah haji untuk menginvestigasi jalur perjalanan mereka. Kedua puluh orang ini bertemu dengan pasukan Khalid. Mereka segera melaporkan kondisi ini pada Muhammad.
Muhammad memutuskan untuk tidak membuang-buang waktu dan tetap pada tujuan awalnya untuk berhaji tanpa ada pertumpahan darah. Ia pun mengutus kembali 20 orang pasukan tadi untuk terus menahan pergerakan pasukan Khalid dengan tujuan memalingkan perhatian Khalid. Jama'ah haji sendiri berbelok ke kanan mendekati pantai menjauhi posisi pasukan Khalid. Mereka pun berhasil melewati Khalid. Pasukan Khalid menyadari bahwa dari kejauhan, debu-debu beterbangan karena pergerakan muslim. Mereka pun segera menyadari bahwa mereka telah dilewati. Mereka pun segera kembali ke perkemahan. Sedangkan muslim terus maju sampai di Hudaybiyah, 21 km di barat Makkah. Mereka berkemah di sana.
Di Hudaybiyah, pasukan Makkah memaksa muslim untuk sedikit melakukan beberapa kali konflik bersenjata, tetapi pertempuran cukup ringan dan tidak ada korban jiwa. Setelah beberapa hari, pasukan Makkah mulai menyadari bahwa Muhammad memang tidak bermaksud untuk bertempur. Akhirnya mereka mengirim utusan di lokasi antara kedua pasukan. Akhirnya diperoleh kesepakatan gencatan senjata bukan hanya untuk waktu itu saja, tetapi gencatan senjata selama sepuluh tahun. Kesepakatan inilah yang terkenal dengan sebutan Perjanjian Hudaybiyah. Isinya antara lain:
a. Untuk 10 tahun ke depan, tidak akan ada peperangan, penjarahan, maupun aksi-aksi militer antara Muslimin dan Quraisy.
b. Tahun depan, Musmilin diizinkan untuk beribadah haji. Mereka diizinkan untuk berada di Makkah selama tiga hari.
c. Setiap anggota Quraisy yang membelot ke pihak muslim harus dipulangkan; setiap muslim yang membelot ke pihak Quraisy tidak akan dipulangkan.
Semua suku lainnya boleh bergabung dalam perjanjian ini di pihak mana saja dan harus mematuhi peraturan-peraturan yang telah disepakati. Beberapa muslim tidak bisa menerima klausul ketiga dari perjanjian yang dinilai tidak adil, terutama Umar yang bertemperamen tinggi. Tetapi Muhammad berhasil meyakinkan semua sahabatnya untuk menerima perjanjian. Pada akhirnya, perjanjian ini sangat menguntungkan bagi pihak muslim. Mereka telah mendapatkan pengakuan dan posisi yang setara dengan Arab Makkah maupun Arab lainnya dengan adanya perjanjian ini. Selain itu, jika seorang Quraisy Makkah masuk Islam, mereka bisa menjadi mata-mata muslim.
Sebagai salah satu akibat perjanjian ini, dua suku yang tinggal di sekitar Makkah juga bergabung: Khuza'ah menjadi sekutu pihak muslim dan Bani Bakr menjadi sekutu Quraisy. Kedua suku ini telah sangat lama bermusuhan.
Karena tidak diizinkan untuk berhaji pada tahun perjanjian, jama'ah haji muslim harus pulang setelah perjanjian disepakati. Tahun berikutnya, Maret 629 M- DzulQa'dah 7 H, jama'ah haji muslim berhasil menunaikan haji mereka untuk pertama kalinya.
Waktu berlalu pola pikir Khalid mulai berubah. Pada awalnya, hal yang ia pikirkan hanyalah masalah dan tujuan militer. Ia merasa penasaran dengan kemampuan dan kecerdasan militernya. Ia merasa seharusnya bisa selalu menang dalam pertempuran, tetapi kemenangan selalu menjauhinya. Pada Pertempuran Uhud, muslim berhasil menyelamatkan diri dari kekalahan mutlak meskipun ia sudah melakukan manuver luar biasa. Ia mengakui pemosisian pasukan yang dilakukan oleh Muhammad ketika itu sangat brilian dan efektif. Di Pertempuran Parit, kemenangan pasukannya pun sirna. Pada ekspedisi Hudaybiyah, Muhammad pun berhasil melewati pasukannya. Akhirnya ia mengakui bahwa ia mengagumi Muhammad akan kepemimpinan militernya, karakternya, dan kualitas pribadinya yang tidak bisa ia temukan pada diri orang lain.
Ia juga merasa bakat militernya tidak akan berkembang banyak jika berada di pihak Makkah. Ia berpikir kesempatannya akan terbuka lebih lebar jika ia bergabung dengan Muhammad. Setelah ibadah haji dilakukan oleh Muhammad dan muslim, keragu-raguannya bertambah. Ia sebenarnya tidak pernah terlalu relijius dan tidak terlalu serius menyembah berhala dewa-dewa agamanya. Pemikirannya selalu terbuka. Sekitar dua bulan setelah ibadah haji dilaksanakan oleh muslim, ia memutuskan untuk masuk Islam.
Ia menemui sahabatnya, Ikrimah bin Abu Jahl dan berkata mengatakan maksudnya ini. Ikrimah terkejut dan mencoba membujuknya. Peristiwa ini diketahui Abu Sufyan, pemimpin Makkah. Ia pun memanggil keduanya dan menanyakan kebenaran kabar tersebut. Khalid mengakui dan Abu Sufyan sangat marah, mengancam Khalid dengan hukuman mati. Tetapi Ikrimah menahan Abu Sufyan dan memintanya untuk membiarkan Khalid untuk pergi. Abu Sufyan pun membiarkannya.
Malam harinya, Khalid pun membawa baju perang, senjata, dan kudanya untuk pergi ke Madinah. Di perjalanannya, ia bertemu dengan dua orang lainnya yang bermaksud sama dengannya: Amr bin Al-Ash (yang akan menaklukkan kekuasaan Romawi di Mesir di masa yang akan datang-pen) dan Utsman bin Talhah (Anak dari pemegang bendera Quraisy pada Pertempuran Uhud). Ketiganya tiba di Madinah pada 31 Mei 629 M-1 Shafar 8 H. Mereka diterima dengan senang hati oleh Muhammad dan muslim lainnya. Seluruh dosa masa lalu seorang yang baru masuk Islam memang akan dihapuskan, mereka bisa memulai kembali seperti selembar kertas bersih.
Usia Khalid sekarang 43 tahun. Ia merasa sangat bahagia hidup di Madinah bersama teman-teman lamanya dan seluruh muslim yang menyambutnya dengan baik. Ia juga bertemu kembali dengan Umar. Di sini, persaingan positifnya dengan Umar kembali dimulai. Tetapi Umar lebih beruntung karena ia termasuk sahabat Muhammad yang telah masuk Islam sejak di Makkah.
Namun Quraisy Makkah khawatir jika kedatangan muslim adalah untuk bertempur. Konsekuensinya, Quraisy Makkah mengonsentrasikan perkemahan pasukan di luar Makkah. Khalid diutus dengan 300 pasukan kavalerinya untuk menahan pergerakan para jama'ah haji muslim yang dianggap sebagai pasukan tempur. Ia berencana untuk melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan untuk menghambat pergerakan muslim. Ia pun menunggu bersama pasukannya di Kuraul Ghamim, 24 km dari Usfan.
Ketika muslim tiba di Usfan, 20 orang berkuda mendahului jama'ah haji untuk menginvestigasi jalur perjalanan mereka. Kedua puluh orang ini bertemu dengan pasukan Khalid. Mereka segera melaporkan kondisi ini pada Muhammad.
Muhammad memutuskan untuk tidak membuang-buang waktu dan tetap pada tujuan awalnya untuk berhaji tanpa ada pertumpahan darah. Ia pun mengutus kembali 20 orang pasukan tadi untuk terus menahan pergerakan pasukan Khalid dengan tujuan memalingkan perhatian Khalid. Jama'ah haji sendiri berbelok ke kanan mendekati pantai menjauhi posisi pasukan Khalid. Mereka pun berhasil melewati Khalid. Pasukan Khalid menyadari bahwa dari kejauhan, debu-debu beterbangan karena pergerakan muslim. Mereka pun segera menyadari bahwa mereka telah dilewati. Mereka pun segera kembali ke perkemahan. Sedangkan muslim terus maju sampai di Hudaybiyah, 21 km di barat Makkah. Mereka berkemah di sana.
Di Hudaybiyah, pasukan Makkah memaksa muslim untuk sedikit melakukan beberapa kali konflik bersenjata, tetapi pertempuran cukup ringan dan tidak ada korban jiwa. Setelah beberapa hari, pasukan Makkah mulai menyadari bahwa Muhammad memang tidak bermaksud untuk bertempur. Akhirnya mereka mengirim utusan di lokasi antara kedua pasukan. Akhirnya diperoleh kesepakatan gencatan senjata bukan hanya untuk waktu itu saja, tetapi gencatan senjata selama sepuluh tahun. Kesepakatan inilah yang terkenal dengan sebutan Perjanjian Hudaybiyah. Isinya antara lain:
a. Untuk 10 tahun ke depan, tidak akan ada peperangan, penjarahan, maupun aksi-aksi militer antara Muslimin dan Quraisy.
b. Tahun depan, Musmilin diizinkan untuk beribadah haji. Mereka diizinkan untuk berada di Makkah selama tiga hari.
c. Setiap anggota Quraisy yang membelot ke pihak muslim harus dipulangkan; setiap muslim yang membelot ke pihak Quraisy tidak akan dipulangkan.
Semua suku lainnya boleh bergabung dalam perjanjian ini di pihak mana saja dan harus mematuhi peraturan-peraturan yang telah disepakati. Beberapa muslim tidak bisa menerima klausul ketiga dari perjanjian yang dinilai tidak adil, terutama Umar yang bertemperamen tinggi. Tetapi Muhammad berhasil meyakinkan semua sahabatnya untuk menerima perjanjian. Pada akhirnya, perjanjian ini sangat menguntungkan bagi pihak muslim. Mereka telah mendapatkan pengakuan dan posisi yang setara dengan Arab Makkah maupun Arab lainnya dengan adanya perjanjian ini. Selain itu, jika seorang Quraisy Makkah masuk Islam, mereka bisa menjadi mata-mata muslim.
Sebagai salah satu akibat perjanjian ini, dua suku yang tinggal di sekitar Makkah juga bergabung: Khuza'ah menjadi sekutu pihak muslim dan Bani Bakr menjadi sekutu Quraisy. Kedua suku ini telah sangat lama bermusuhan.
Karena tidak diizinkan untuk berhaji pada tahun perjanjian, jama'ah haji muslim harus pulang setelah perjanjian disepakati. Tahun berikutnya, Maret 629 M- DzulQa'dah 7 H, jama'ah haji muslim berhasil menunaikan haji mereka untuk pertama kalinya.
Waktu berlalu pola pikir Khalid mulai berubah. Pada awalnya, hal yang ia pikirkan hanyalah masalah dan tujuan militer. Ia merasa penasaran dengan kemampuan dan kecerdasan militernya. Ia merasa seharusnya bisa selalu menang dalam pertempuran, tetapi kemenangan selalu menjauhinya. Pada Pertempuran Uhud, muslim berhasil menyelamatkan diri dari kekalahan mutlak meskipun ia sudah melakukan manuver luar biasa. Ia mengakui pemosisian pasukan yang dilakukan oleh Muhammad ketika itu sangat brilian dan efektif. Di Pertempuran Parit, kemenangan pasukannya pun sirna. Pada ekspedisi Hudaybiyah, Muhammad pun berhasil melewati pasukannya. Akhirnya ia mengakui bahwa ia mengagumi Muhammad akan kepemimpinan militernya, karakternya, dan kualitas pribadinya yang tidak bisa ia temukan pada diri orang lain.
Ia juga merasa bakat militernya tidak akan berkembang banyak jika berada di pihak Makkah. Ia berpikir kesempatannya akan terbuka lebih lebar jika ia bergabung dengan Muhammad. Setelah ibadah haji dilakukan oleh Muhammad dan muslim, keragu-raguannya bertambah. Ia sebenarnya tidak pernah terlalu relijius dan tidak terlalu serius menyembah berhala dewa-dewa agamanya. Pemikirannya selalu terbuka. Sekitar dua bulan setelah ibadah haji dilaksanakan oleh muslim, ia memutuskan untuk masuk Islam.
Ia menemui sahabatnya, Ikrimah bin Abu Jahl dan berkata mengatakan maksudnya ini. Ikrimah terkejut dan mencoba membujuknya. Peristiwa ini diketahui Abu Sufyan, pemimpin Makkah. Ia pun memanggil keduanya dan menanyakan kebenaran kabar tersebut. Khalid mengakui dan Abu Sufyan sangat marah, mengancam Khalid dengan hukuman mati. Tetapi Ikrimah menahan Abu Sufyan dan memintanya untuk membiarkan Khalid untuk pergi. Abu Sufyan pun membiarkannya.
Malam harinya, Khalid pun membawa baju perang, senjata, dan kudanya untuk pergi ke Madinah. Di perjalanannya, ia bertemu dengan dua orang lainnya yang bermaksud sama dengannya: Amr bin Al-Ash (yang akan menaklukkan kekuasaan Romawi di Mesir di masa yang akan datang-pen) dan Utsman bin Talhah (Anak dari pemegang bendera Quraisy pada Pertempuran Uhud). Ketiganya tiba di Madinah pada 31 Mei 629 M-1 Shafar 8 H. Mereka diterima dengan senang hati oleh Muhammad dan muslim lainnya. Seluruh dosa masa lalu seorang yang baru masuk Islam memang akan dihapuskan, mereka bisa memulai kembali seperti selembar kertas bersih.
Usia Khalid sekarang 43 tahun. Ia merasa sangat bahagia hidup di Madinah bersama teman-teman lamanya dan seluruh muslim yang menyambutnya dengan baik. Ia juga bertemu kembali dengan Umar. Di sini, persaingan positifnya dengan Umar kembali dimulai. Tetapi Umar lebih beruntung karena ia termasuk sahabat Muhammad yang telah masuk Islam sejak di Makkah.
Komentar
Posting Komentar