Pengepungan Thaif

Muhammad telah berhasil memecah pasukan koalisi dan mengusir mereka dari Autas. Kemudian ia memutuskan untuk tidak memberikan kesempatan bagi Malik bin Awf untuk mengembalikan nafasnya dan mereorganisasi perlawanan. Untuk itu, ia mengirim tawanan dan hewan-hewan rampasan meninggalkan Autas menuju Jirana, untuk dijaga sampai kembalinya pasukan. Keesokan harinya, ia langsung pergi menuju Tha'if. Kali ini ia bergerak lebih hati-hati setelah menerima pengalaman tidak menyenangkan akibat penyergapan di Pertempuran Hunayn. Medan yang harus dihadapi oleh pasukannya berbukit-bukit tinggi yang memanjang sampai di dataran tempat Tha'if berada. Medan ini sangat cocok untuk penyergapan.

Muhammad mengambil jalan memutar untuk sedikit membuat kejutan. Khalid kembali memimpin pasukan pendahulu. Namun Malik bin Awf juga tidak mau gegabah lagi setelah kekalahan dramatisnya di Hunayn dan Autas. Ia menetapkan untuk tidak bertempur secara terbuka. Ia memerintahkan pasukan Tsaqifnya bertahan di dalam benteng kota. Ia juga mengumpulkan logistik untuk mempersiapkan diri meghadapi pengepungan yang panjang.

Pasukan muslim mencapai Tha'if pada tanggal 5 Februari 630M-15 Syawwal 8H. Pengepungan dimulai dan perkemahan mereka tempatkan terlalu dekat dengan dinding benteng. Akibat kesalahan ini, mereka dihujani oleh panah pasukan musuh. Beberapa muslim gugur dalam serangan itu. Perkemahan pun dipindahkan.

Beberapa kelompok pasukan muslim dipimpin Abu Bakr menempatkan diri di sekitar benteng untuk memastikan tidak ada aktivitas keluar masuk kota. Hanya panah-memanah saja yang terjadi dalam operasi ini. Pemanah Tsaqif lebih beruntung dalam proses tersebut karena memiliki perlindungan yang lebih baik.

Beberapa hari telah lewat. Salman Al-Farisi atau Salman, Orang Persia, kali ini kembali membawa ide yang baru bagi orang Arab. Sebagai seorang Persia, ia mengetahui beberapa sistem pertempuran dengan cukup baik, termasuk pengepungan. Di bawah instruksinya, katapel-katapel raksasa yang biasa digunakan oleh tentara-tentara maju pada saat itu (Persia dan Romawi) dibuat. Namun, orang-orang Arab masih terlalu amatir untuk membuat alat itu dalam waktu yang singkat sehingga batu-batu yang ditembakkan tidak terlalu berpengaruh.

Salman kemudian menginstruksikan untuk membuat testudo, sebuah perisai raksasa seperti atap kendaraan, terbuat dari kayu yang di bawahnya, sekelompok pasukan dapat berlindung sambil membawa pendobrak raksasa menuju gerbang kota. Saat pendobrak ini dibawa menuju gerbang kota, Malik memerintahkan pasukannya untuk menyiramkan besi merah cair ke atas pendobrak tersebut. Akibatnya, testudo terbakar dan pasukan di bawahnya mundur.

Dua pekan berlalu dan akhir dari pengepungan belum terlihat. Tsaqif tidak terlihat akan bertempur di luar benteng kota. Kondisi cuaca sangat dingin pada bulan Februari itu. Akhirnya Muhammad memutuskan untuk melaksanakan musyawarah militer. Abu Bakr dan Umar mengajukan pendapat agar pengepungan dihentikan dan mereka kembali ke Makkah. Namun beberapa muslim yang mengikuti musyawarah tersebut bersikeras untuk melanjutkan pengepungan. Muhammad akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran untuk mempertahankan pengepungan meskipun ia lebih cenderung pada pendapat Abu Bakr dan Umar.

Keesokan harinya, sebagian muslim mencoba lagi mendekati dinding benteng, tetapi dipaksa kembali karena dihujani anak panah. Akhirnya mereka menyetujui gagasan untuk menghentikan pengepungan dan pulang kembali ke Makkah.

Pada tanggal 23 Februari 630M-4 Dzulqa'dah 8H, pengepungan dihentikan. Pasukan muslim kehilangan 12 pasukannya dan banyak yang terluka. Namun, 10 bulan setelah pengepungan ini, Tsaqif akhirnya menerima Islam dan loyal dengan kepercayaan barunya.

Pasukan muslim tiba di Jirana pada tanggal 26 Februari dan di sana, Muhammad membagikan harta rampasan perang di Autas. Namun, Hawazin mengirimkan delegasi kepada Muhammad untuk menyatakan penyerahan diri mereka pada Islam. Mereka meminta agar istri-istri dan anak mereka dikembalikan, tetapi mereka mengizinkan harta mereka yang lain untuk dibagikan pada pasukan pemenang pertempuran. Muhammad dengan dermawan mengabulkan permintaan ini.

Beberapa hari kemudian, Malik diam-diam pergi meninggalkan Tha'if dan mendatangi perkemahan muslim. Ia akhirnya masuk Islam. Sayangnya, kemampuan militernya tidak terlalu sering digunakan dalam ekspedisi-ekspedisi pasukan muslim di masa yang akan datang.

Muhammad dan pasukan inti Islam kembali ke Madinah di akhir Maret 630 atau akhir tahun 8H. Tahun hijrah berikutnya dikenal sebagai Tahun Delegasi-delegasi karena pada tahun itu, delegasi-delegasi dari hampir semua suku di Jazirah Arab berdatangan ke Madinah untuk menyatakan diri penyerahan diri mereka pada Islam dan kekuasaan Madinah. Namun tidak semua di antara mereka datang dengan motif ingin masuk Islam dengan sungguh-sungguh. Sebagian di antara mereka hanya datang dengan tujuan politis dan bahkan ada yang hanya bedebah yang ingin memanfaatkan kesempatan. Kita akan melihat tingkah laku mereka dalam lanjutan tulisan ini.

Sumber

Komentar