Segera setelah rakyat Makkah menyatakan kesetiaan kepada Muhammad dan kehidupan di sana kembali normal, angin perlawanan mulai bertiup dari timur. Dua suku besar, Hawazin dan Tsaqif, bersiap untuk berperang.
Hawazin tinggal di daerah timur laut Makkah dan Tsaqif berada di daerah Tha'if. Dua suku yang bertetangga ini khawatir, kekuatan muslim yang baru saja menaklukkan Makkah akan menyebar ke perkampungan-perkampungan mereka. Mereka memutuskan untuk melakukan inisiatif penyerangan. Dua suku ini mengonsentrasikan pasukannya di Autas, dekat Hunayn. Di sana, berbagai kontingen pasukan dari berbagai suku berkumpul seperti berkumpulnya pasukan sekutu dan Pertempuran Parit beberapa tahun sebelumnya. Kekuatan total mereka adalah 12.000 pasukan yang dipimpin oleh Malik bin Awf yang sangat bersemangat. Ia menginstruksikan semua padukannya untuk bertempur mati-matian seolah-olah dalam keadaan berbahaya. Ia juga memerintahkan anggota keluarga masing-masing pasukan turut serta.
Pemimpin lainnya dalam koalisi pasukan ini adalah Duraid bin As-Simma. Karena sudah tua, laki-laki ini telah kehilangan kekuatan untuk memimpin pasukan dalam pertempuran, tetapi kebijakan militernya tidak tertandingi karena pengalamannya.
Ia menganjurkan pada Malik untuk mengumpulkan para anggota keluarga pasukan di tempat yang aman. Malik menganggap anjuran ini sebagai penghinaan atas keputusan dan kemampuannya sebagai panglima perang. Ia menolak anjuran dan Malik pun tidak banyak memaksakan pendapatnya ini. Hanya pasukan dari Hawazin yang membawa serta anggota keluarga mereka.
Muhammad tidak menginginkan pertumpahan darah yang lebih banyak, tetapi ia tidak punya pilihan dan harus bersiap meghadapi musuh. Pengaruh penaklukan Makkah atas suku-suku Arab lainnya akan hilang begitu saja jika ia membiarkan pasukan musuh dalam jangka waktu beberapa bulan. Tanggal 27 Januari 630M-6 Syawwal 8H, pasukan muslim keluar Makkah. Mereka berjumah 10.000 orang yang menaklukkan Makkah ditambah 2.000 muslim Makkah yang baru masuk Islam. Muslim-muslim baru ini masih menyimpan sedikit keraguan dalam hati mereka; mereka mengikuti pasukan hanya karena merasa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Di antara mereka adalah Abu Sufyan dan Safwan bin Umayyah. Safwan yang diberi kesempatan selama empat bulan untuk memutuskan masuk Islam atau tidak menyumbangkan 100 baju zirah dalam pertempuran ini.
Pasukan muslim berangkat ke Hunayn didahului oleh 700 orang berkuda dari Bani Sulaym dipimpin oleh Khalid. Malam tanggal 31 Januari, mereka tiba di Hunayn dan membangun kemah. Hunayn adalah sebuah lembah 18 km di timur laut Makkah. Di antara Shara'i-ul-Mujahid dan Shara'i Nakhla, panjang lembah ini adalah 11 km. Lembah ini berlanjut 11 km ke timur, kemudian berbelok ke utara menuju Zaima. Di antara dua Shara'i, lembah ini cukup lebar, sekitar 3 km. Tetapi di setelah Shara'i Nakhla, lembah Hunayn menyempit sekitar 400-800 m dan semakin menyempit mendekati daerah Zaima.
Ketika pasukan muslim bergerak ke Hunayn, dua pihak yang akan bertempur saling mengirimkan mata-mata. Muhammad memperoleh kabar tentang kekuatan koalisi musuh dan musuh pun mengetahui gerak serta kekuatan muslim. Ketika muslim tiba di perkemahan mereka, mata-mata koalisi meapor ke panglimanya, Malik bin Awf. Mengetahui bahwa muslim mengetahui posisi pasukan koalisi di Autas, Malik memperkirakan bahwa Muhammad hendak bertempur di autas atau di sekitarnya. Ia lalu memanfaatkan info ini untuk strategi yang lebih baik.
Sebelum fajar tanggal 1 Februari 630M-11 Syawwal 8H, pasukan muslim berbaris bersama dalam barisan memanjang menuju ke Autas sesuai dengan rencana untuk bertempur terbuka di sana. Mereka berharap musuh belum mengetahui lokasi mereka sehingga mereka bisa aman melewati celah sempit Hunayn ketika mendekati Autas. Pertahanan paling depan diserahkan ke Khalid dan pasukan Bani Sulaymnya. Perkemahan dibiarkan berdiri sebagai markas operasi.
Ketika cahaya matahari mulai keluar di langit timur, pasukan Khalid telah tiba di celah sempit 3,2 km sebelum Zaima. Badai penyergapan pun datang! Khalid menerima serangan paling awal. Keheningan fajar terpecah dengan ribuan teriakan perang dan panah beterbangan menuju pasukannya bukan dalam jumlah belasan atau dua puluhan, tetapi dalam jumlah ribuan. Pasukan Bani Sulaym dan kuda-kuda mereka tidak siap dan semuanya bergerak mundur ketakutan, kecuali Khalid. Ia berteriak ke pasukannya untuk tetap kokoh maju ke depan dengan cepat, tetapi teriakannya tidak terdengar dalam kebisingan dan kebingungan. Ia akhirnya terluka cukup parah dan kudanya terbawa dalam pelarian pasukannya. Tidak lama kemudian, ia pun terjatuh dari kudanya dan tidak bisa banyak bergerak.
Karena mundurnya Bani Sulaym dalam keadaan panik ini, mereka berlari ke arah unit infantri di belakang mereka yang sedang berjalan di celah sempit. Pasukan infantri ini mulai menyadari bahwa telah terjadi penyergapan. Pasukan Makkah yang setengah hati juga ikut berlarian panik diikuti oleh beberapa kelompok pasukan infantri lainnya seperti penyakit menular. Sebagian muslim mundur ke perkemahan, tetapi mayoritas dari mereka bergerak tersebar mencari tempat aman dari sergapan. Kebingungan bertambah ketika unta-unta dan kuda-kuda berlarian kebingungan tanpa tahu arah untuk meloloskan diri.
Malik bin Awf telah berhasil membuat terkejut pasukan lawannya. Di malam hari sebelumya, ia telah menggerakkan pasukannya di bukit-bukit yang membentuk celah sempit Hunayn yang akan dilewati muslim. Celah sempit semacam sangat cocok untuk penyergapan karena pasukan yang berada padanya akan kesulitan melakukan manuver apapun. Di belakang lokasi penyergapan mereka, telah tersedia jalur untuk mundur ke Autas jika rencananya tidak berjalan dengan baik.
Kebanyakan dari muslim Makkah yang baru masuk Islam terlihat senang melihat saudara-saudara barunya itu berlarian. Abu Sufyan berteriak, "Pelarian ini tidak akan berhenti sampai mereka tiba di laut!" Hadir di samping Safwan bin Umayyah adalah adik tirinya yang berkata, "Sekarang sihir Muhammad akan terkuak." "Diam!" Kata Safwan menampar adiknya, "Semoga Allah merobek mulutmu! Aku lebih suka seorang Quraysh memimpin kita daripada kita dipimpin oleh orang Hawazin (dari pasukan musuh-pent)."
Muhammad tetap berdiri di tempat ditinggal oleh pasukannya. Ia hanya bersama sembilan orang sahabat, di antaranya Ali, Abu Bakr, Umar, dan Abbas. Ketika pasukan muslimnya berlarian melewatinya tanpa peduli dengan kehadirannya, ia berteriak, "Wahai Muslimin! Aku di sini! Aku, Rasulullah! Aku Muhammad bin Abdullah!" Tetapi teriakan ini tidak berpengaruh. Kelompok pendahulu dari pasukan Hawazin telah tiba di dekat Muhammad dan sahabatnya berdiri. Ali dan seorang muslim membunuh musuh pertama saat itu, seorang Hawazin yang mengendarai unta.
Muhammad bergerak maju bersama pasukan yang tetap teguh bersamanya menuju sebuah tanah berbatu yang agak tinggi. Sejumlah kecil pasukan Tsaqif menyerang mereka, tetapi berhasil dipukul mundur.
Malik bin Awf merupakan yang pertama yang menimpakan penyergapan pada pasukan muslim. Bagi pasukan muslim ini adalah pengalaman pahit. Banyak di antara mereka kehilangan semangatnya dan lari dari medan pertempuran. Dalam situasi demikian, hanya pemberani sejatilah yang tidak akan panik.
Strategi Malik memang luar biasa, tetapi pasukannya bergerak tidak seperti seharusnya. Pasukannya tidak sabar untuk segera menyerang sebelum bagian utama pasukan musim memasuki celah sempit Hunayn. Kesalahan Malik adalah ia ternyata cukup puas dengan keadaan demikian. Ia tidak berniat mengejar muslim yang berlarian. Jika ia melakukan pengejaran, cerita yang terjadi akan lain. Terlebih lagi pemanah Hawazin tidak terlatih dengan baik. Pasukan berkuda yang mereka serang di awal penyergapan tidak ada satu pun yang tewas.
Muhammad mengamati lokasi pertempuran dari lokasinya, dan apa yang lihat ternyata sangat menjanjikan. Ia memutuskan membiarkan Malik seolah-olah mencapai kemenangan yang mudah. Ia kemudian berkata pada Abbas agar ia berteriak memerintahkan pasukan muslim untuk berkumpul di sekitarnya. Abbas adalah orang yang berbadan besar dengan suara yang kuat. Suara teriakannya bisa terdengar beberapa kilo di tempat terbuka. Teriakannya pun terdengar oleh semua pasukan muslim, "Wahai Muslim! Datanglah kepada Rasulullah! Wahai Anshar... Wahai para Sahabat...!" Ia memanggil setiap suku untuk berkumpul dan melapor kepada Muhammad.
Pasukan muslim mulai keluar dari kepanikannya dan berkumpul di sekitar Muhammad. Segera setelah 100 orang pertama berkumpul, ia memerintahkan serangan balik. Segera juga setelah itu, ribuan pasukan muslim berkumpul memukul mundur musuh. Ketika Muhammad merasa kekuatannya sudah cukup, ia memerintahkan serangan umum ke arah pasukan Hawazin.
Kali ini, Maliklah yang terkejut. Merasa yakin kemenangan akan ia raih, dia kini harus mengakui bahwa pasukannya dalam tekanan. Secara perlahan-lahan, pasukan Hawazin mundur.
Akhirnya Malik memutuskan untuk mundur. Pasukan Tasqif pelindung garis belakang telah bersiap melaksanakan tugas mereka. Pasukan Hawazin berhasil meloloskan diri ke celah Hunayn lain. Pasukan Tsaqif terpukul cukup parah dan akhirnya mundur juga diikuti pasukan dari suku-suku lain. Pasukan Hawazin juga telah bersiap untuk melakukan pertempuran dengan strategi bertahan. Ia bermaksud menahan Muhammad dan pasukannya di celah tersebut sehingga keluarga mereka di Autas bisa mundur dengan aman.
Pasukan muslim tidak hanya telah keluar dari kejutan akibat penyergapan, tetapi telah berhasil melakukan serangan balik yang sempurna dan mengusir musuh dari medan pertempuran. Kemenangan ini adalah kemenangan taktik, tetapi kemenangan lainnya akan segera datang.
Pasukan muslim telah berkumpul dengan rapih kembali, kecuali yang telah kabur. Muhammad memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan emasnya. Ia mengatur sebuah kelompok kavaleri yang kuat dan mengirimnya ke depan untuk membersihkan lembah sebelum Hawazin memiliki waktu untuk mereorganisasi serangannya. Khalid yang tidak bisa bangun tidak mengikuti serangan balik yang dilancarkan Muhammad. Muhammad menemuinya dan mencabut senjata yang tertancap di tubuhnya. Setelah merasa lebih baik, ia bergabung dengan pasukan kavaleri lainnya.
Kelompok kavaleri ini dipimpin oleh Zubayr bin Al-Awwam. Dalam waktu singkat, kelompok ini berhasil memukul mundur Malik dan pasukannya yang belum siap dan celah Hunayn pun benar-benar dalam kekuasaan pasukan muslim. Zubayr diperintahkan oleh Muhammad untuk menjaga lokasinya. Muhammad kemudian menunjuk Abu Amir untuk memimpin pasukan lainnya menyerbu perkemahan di Autas. Setibanya Abu Amir dan pasukannya di Autas, pertempuran sengit terjadi. Abu Amir membunuh 9 orang dan ia terbunuh oleh orang kesepuluh yang bertarung dengannya. Komando diambil alih oleh kemenakannya, Abu Musa. Pertempuran terus berlanjut sampai pasukan Hawazin melarikan diri dari medan pertempuran. Perkemahan pun jatuh ke tangan muslim. Kavaleri Zubayr dan Khalid bersama-sama melakukan pengejaran.
Pasukan koalisi musuh pun terpecah. Hawazin dan suku-suku lainnya menyebar ke berbagai perkampungan mereka. Sementara pasukan Tsaqif dengan sigap melarikan diri ke Tha'if di mana mereka mencoba melawan sampai akhir yang pahit.
Pertempuran Hunayn pun usai. Korban di pihak muslim secara mengejutkan sangat sedikit akibat pemanah Hawazin yang kurang ahli. Memang Banyak yang terluka, tetapi hanya empat orang yang tewas. Alasan kuat kejadian ini bisa terjadi adalah karena keterampilan perang yang lebih dan keberanian yang dibangkitkan oleh pemimpinnya. Petarung yang paling ahli di antara kaum muslim mampu setidaknya membunuh 3-4 orang musuh berturut-turut. 70 orang musuh tewas di lembah Hunayn, di celah sempit Hunayn, dan di Autas. Di perkemahan Autas, muslim menawan 6.000 perempuan, anak-anak, dan budak. Harta rampasan perang yang mereka peroleh adalah ribuan unta, kambing, dan domba.
Inilah untuk pertama kalinya pasukan muslim disergap dalam skala besar. Pertempuran ini juga adalah yang kedua dalam sejarah penyergapan oleh keseluruhan pasukan terhadap keseluruhan pasukan musuh (yang pertema adalah penyergapan pasukan Hannibal terhadap pasukan Romawi di Danau Tramisene tahun 217 SM). Malik memang memiliki rencana militer yang dahsyat untuk menghancurkan pasukan muslim. Namun penampilan buruk dari pasukannya tidak bisa memenuhi rencananya. Meskipun demikian, Malik bisa saja memenangkan peretmpuran ini jika musuh tidak memiliki pemimpin yang memiliki determinasi yang tinggi seperti Muhammad dan pasukan muslim yang sangat percaya pada pemimpinnya. Tidak seperti Malik, Muhammad tidak cepat puas dengan raihan kecil.
Pertempuran ini juga merupakan pengalaman pertama bagi Khalid disergap. Ia selalu mengetahui nilai sebuah kejutan dalam pertempuran, tetapi kali ini ia terperangkap dalam kejutan tersebut. Ia melihat bagaimana pasukannya termasuk yang pemberani menjadi panik akibat kemunculan pasukan musuh yang tiba-tiba di waktu dan tempat yang tidak diharapkan. Ia bertekad untuk tidak pernah lagi untuk terperangkap karena tidak hati-hati, dan dia ternyata memang tidak pernah lagi mengalami hal ini di pertempuran-pertempuran berikutnya.
Sumber
Hawazin tinggal di daerah timur laut Makkah dan Tsaqif berada di daerah Tha'if. Dua suku yang bertetangga ini khawatir, kekuatan muslim yang baru saja menaklukkan Makkah akan menyebar ke perkampungan-perkampungan mereka. Mereka memutuskan untuk melakukan inisiatif penyerangan. Dua suku ini mengonsentrasikan pasukannya di Autas, dekat Hunayn. Di sana, berbagai kontingen pasukan dari berbagai suku berkumpul seperti berkumpulnya pasukan sekutu dan Pertempuran Parit beberapa tahun sebelumnya. Kekuatan total mereka adalah 12.000 pasukan yang dipimpin oleh Malik bin Awf yang sangat bersemangat. Ia menginstruksikan semua padukannya untuk bertempur mati-matian seolah-olah dalam keadaan berbahaya. Ia juga memerintahkan anggota keluarga masing-masing pasukan turut serta.
Pemimpin lainnya dalam koalisi pasukan ini adalah Duraid bin As-Simma. Karena sudah tua, laki-laki ini telah kehilangan kekuatan untuk memimpin pasukan dalam pertempuran, tetapi kebijakan militernya tidak tertandingi karena pengalamannya.
Ia menganjurkan pada Malik untuk mengumpulkan para anggota keluarga pasukan di tempat yang aman. Malik menganggap anjuran ini sebagai penghinaan atas keputusan dan kemampuannya sebagai panglima perang. Ia menolak anjuran dan Malik pun tidak banyak memaksakan pendapatnya ini. Hanya pasukan dari Hawazin yang membawa serta anggota keluarga mereka.
Muhammad tidak menginginkan pertumpahan darah yang lebih banyak, tetapi ia tidak punya pilihan dan harus bersiap meghadapi musuh. Pengaruh penaklukan Makkah atas suku-suku Arab lainnya akan hilang begitu saja jika ia membiarkan pasukan musuh dalam jangka waktu beberapa bulan. Tanggal 27 Januari 630M-6 Syawwal 8H, pasukan muslim keluar Makkah. Mereka berjumah 10.000 orang yang menaklukkan Makkah ditambah 2.000 muslim Makkah yang baru masuk Islam. Muslim-muslim baru ini masih menyimpan sedikit keraguan dalam hati mereka; mereka mengikuti pasukan hanya karena merasa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Di antara mereka adalah Abu Sufyan dan Safwan bin Umayyah. Safwan yang diberi kesempatan selama empat bulan untuk memutuskan masuk Islam atau tidak menyumbangkan 100 baju zirah dalam pertempuran ini.
Pasukan muslim berangkat ke Hunayn didahului oleh 700 orang berkuda dari Bani Sulaym dipimpin oleh Khalid. Malam tanggal 31 Januari, mereka tiba di Hunayn dan membangun kemah. Hunayn adalah sebuah lembah 18 km di timur laut Makkah. Di antara Shara'i-ul-Mujahid dan Shara'i Nakhla, panjang lembah ini adalah 11 km. Lembah ini berlanjut 11 km ke timur, kemudian berbelok ke utara menuju Zaima. Di antara dua Shara'i, lembah ini cukup lebar, sekitar 3 km. Tetapi di setelah Shara'i Nakhla, lembah Hunayn menyempit sekitar 400-800 m dan semakin menyempit mendekati daerah Zaima.
Ketika pasukan muslim bergerak ke Hunayn, dua pihak yang akan bertempur saling mengirimkan mata-mata. Muhammad memperoleh kabar tentang kekuatan koalisi musuh dan musuh pun mengetahui gerak serta kekuatan muslim. Ketika muslim tiba di perkemahan mereka, mata-mata koalisi meapor ke panglimanya, Malik bin Awf. Mengetahui bahwa muslim mengetahui posisi pasukan koalisi di Autas, Malik memperkirakan bahwa Muhammad hendak bertempur di autas atau di sekitarnya. Ia lalu memanfaatkan info ini untuk strategi yang lebih baik.
Sebelum fajar tanggal 1 Februari 630M-11 Syawwal 8H, pasukan muslim berbaris bersama dalam barisan memanjang menuju ke Autas sesuai dengan rencana untuk bertempur terbuka di sana. Mereka berharap musuh belum mengetahui lokasi mereka sehingga mereka bisa aman melewati celah sempit Hunayn ketika mendekati Autas. Pertahanan paling depan diserahkan ke Khalid dan pasukan Bani Sulaymnya. Perkemahan dibiarkan berdiri sebagai markas operasi.
Ketika cahaya matahari mulai keluar di langit timur, pasukan Khalid telah tiba di celah sempit 3,2 km sebelum Zaima. Badai penyergapan pun datang! Khalid menerima serangan paling awal. Keheningan fajar terpecah dengan ribuan teriakan perang dan panah beterbangan menuju pasukannya bukan dalam jumlah belasan atau dua puluhan, tetapi dalam jumlah ribuan. Pasukan Bani Sulaym dan kuda-kuda mereka tidak siap dan semuanya bergerak mundur ketakutan, kecuali Khalid. Ia berteriak ke pasukannya untuk tetap kokoh maju ke depan dengan cepat, tetapi teriakannya tidak terdengar dalam kebisingan dan kebingungan. Ia akhirnya terluka cukup parah dan kudanya terbawa dalam pelarian pasukannya. Tidak lama kemudian, ia pun terjatuh dari kudanya dan tidak bisa banyak bergerak.
Karena mundurnya Bani Sulaym dalam keadaan panik ini, mereka berlari ke arah unit infantri di belakang mereka yang sedang berjalan di celah sempit. Pasukan infantri ini mulai menyadari bahwa telah terjadi penyergapan. Pasukan Makkah yang setengah hati juga ikut berlarian panik diikuti oleh beberapa kelompok pasukan infantri lainnya seperti penyakit menular. Sebagian muslim mundur ke perkemahan, tetapi mayoritas dari mereka bergerak tersebar mencari tempat aman dari sergapan. Kebingungan bertambah ketika unta-unta dan kuda-kuda berlarian kebingungan tanpa tahu arah untuk meloloskan diri.
Malik bin Awf telah berhasil membuat terkejut pasukan lawannya. Di malam hari sebelumya, ia telah menggerakkan pasukannya di bukit-bukit yang membentuk celah sempit Hunayn yang akan dilewati muslim. Celah sempit semacam sangat cocok untuk penyergapan karena pasukan yang berada padanya akan kesulitan melakukan manuver apapun. Di belakang lokasi penyergapan mereka, telah tersedia jalur untuk mundur ke Autas jika rencananya tidak berjalan dengan baik.
Kebanyakan dari muslim Makkah yang baru masuk Islam terlihat senang melihat saudara-saudara barunya itu berlarian. Abu Sufyan berteriak, "Pelarian ini tidak akan berhenti sampai mereka tiba di laut!" Hadir di samping Safwan bin Umayyah adalah adik tirinya yang berkata, "Sekarang sihir Muhammad akan terkuak." "Diam!" Kata Safwan menampar adiknya, "Semoga Allah merobek mulutmu! Aku lebih suka seorang Quraysh memimpin kita daripada kita dipimpin oleh orang Hawazin (dari pasukan musuh-pent)."
Muhammad tetap berdiri di tempat ditinggal oleh pasukannya. Ia hanya bersama sembilan orang sahabat, di antaranya Ali, Abu Bakr, Umar, dan Abbas. Ketika pasukan muslimnya berlarian melewatinya tanpa peduli dengan kehadirannya, ia berteriak, "Wahai Muslimin! Aku di sini! Aku, Rasulullah! Aku Muhammad bin Abdullah!" Tetapi teriakan ini tidak berpengaruh. Kelompok pendahulu dari pasukan Hawazin telah tiba di dekat Muhammad dan sahabatnya berdiri. Ali dan seorang muslim membunuh musuh pertama saat itu, seorang Hawazin yang mengendarai unta.
Muhammad bergerak maju bersama pasukan yang tetap teguh bersamanya menuju sebuah tanah berbatu yang agak tinggi. Sejumlah kecil pasukan Tsaqif menyerang mereka, tetapi berhasil dipukul mundur.
Malik bin Awf merupakan yang pertama yang menimpakan penyergapan pada pasukan muslim. Bagi pasukan muslim ini adalah pengalaman pahit. Banyak di antara mereka kehilangan semangatnya dan lari dari medan pertempuran. Dalam situasi demikian, hanya pemberani sejatilah yang tidak akan panik.
Strategi Malik memang luar biasa, tetapi pasukannya bergerak tidak seperti seharusnya. Pasukannya tidak sabar untuk segera menyerang sebelum bagian utama pasukan musim memasuki celah sempit Hunayn. Kesalahan Malik adalah ia ternyata cukup puas dengan keadaan demikian. Ia tidak berniat mengejar muslim yang berlarian. Jika ia melakukan pengejaran, cerita yang terjadi akan lain. Terlebih lagi pemanah Hawazin tidak terlatih dengan baik. Pasukan berkuda yang mereka serang di awal penyergapan tidak ada satu pun yang tewas.
Muhammad mengamati lokasi pertempuran dari lokasinya, dan apa yang lihat ternyata sangat menjanjikan. Ia memutuskan membiarkan Malik seolah-olah mencapai kemenangan yang mudah. Ia kemudian berkata pada Abbas agar ia berteriak memerintahkan pasukan muslim untuk berkumpul di sekitarnya. Abbas adalah orang yang berbadan besar dengan suara yang kuat. Suara teriakannya bisa terdengar beberapa kilo di tempat terbuka. Teriakannya pun terdengar oleh semua pasukan muslim, "Wahai Muslim! Datanglah kepada Rasulullah! Wahai Anshar... Wahai para Sahabat...!" Ia memanggil setiap suku untuk berkumpul dan melapor kepada Muhammad.
Pasukan muslim mulai keluar dari kepanikannya dan berkumpul di sekitar Muhammad. Segera setelah 100 orang pertama berkumpul, ia memerintahkan serangan balik. Segera juga setelah itu, ribuan pasukan muslim berkumpul memukul mundur musuh. Ketika Muhammad merasa kekuatannya sudah cukup, ia memerintahkan serangan umum ke arah pasukan Hawazin.
Kali ini, Maliklah yang terkejut. Merasa yakin kemenangan akan ia raih, dia kini harus mengakui bahwa pasukannya dalam tekanan. Secara perlahan-lahan, pasukan Hawazin mundur.
Akhirnya Malik memutuskan untuk mundur. Pasukan Tasqif pelindung garis belakang telah bersiap melaksanakan tugas mereka. Pasukan Hawazin berhasil meloloskan diri ke celah Hunayn lain. Pasukan Tsaqif terpukul cukup parah dan akhirnya mundur juga diikuti pasukan dari suku-suku lain. Pasukan Hawazin juga telah bersiap untuk melakukan pertempuran dengan strategi bertahan. Ia bermaksud menahan Muhammad dan pasukannya di celah tersebut sehingga keluarga mereka di Autas bisa mundur dengan aman.
Pasukan muslim tidak hanya telah keluar dari kejutan akibat penyergapan, tetapi telah berhasil melakukan serangan balik yang sempurna dan mengusir musuh dari medan pertempuran. Kemenangan ini adalah kemenangan taktik, tetapi kemenangan lainnya akan segera datang.
Pasukan muslim telah berkumpul dengan rapih kembali, kecuali yang telah kabur. Muhammad memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan emasnya. Ia mengatur sebuah kelompok kavaleri yang kuat dan mengirimnya ke depan untuk membersihkan lembah sebelum Hawazin memiliki waktu untuk mereorganisasi serangannya. Khalid yang tidak bisa bangun tidak mengikuti serangan balik yang dilancarkan Muhammad. Muhammad menemuinya dan mencabut senjata yang tertancap di tubuhnya. Setelah merasa lebih baik, ia bergabung dengan pasukan kavaleri lainnya.
Kelompok kavaleri ini dipimpin oleh Zubayr bin Al-Awwam. Dalam waktu singkat, kelompok ini berhasil memukul mundur Malik dan pasukannya yang belum siap dan celah Hunayn pun benar-benar dalam kekuasaan pasukan muslim. Zubayr diperintahkan oleh Muhammad untuk menjaga lokasinya. Muhammad kemudian menunjuk Abu Amir untuk memimpin pasukan lainnya menyerbu perkemahan di Autas. Setibanya Abu Amir dan pasukannya di Autas, pertempuran sengit terjadi. Abu Amir membunuh 9 orang dan ia terbunuh oleh orang kesepuluh yang bertarung dengannya. Komando diambil alih oleh kemenakannya, Abu Musa. Pertempuran terus berlanjut sampai pasukan Hawazin melarikan diri dari medan pertempuran. Perkemahan pun jatuh ke tangan muslim. Kavaleri Zubayr dan Khalid bersama-sama melakukan pengejaran.
Pasukan koalisi musuh pun terpecah. Hawazin dan suku-suku lainnya menyebar ke berbagai perkampungan mereka. Sementara pasukan Tsaqif dengan sigap melarikan diri ke Tha'if di mana mereka mencoba melawan sampai akhir yang pahit.
Pertempuran Hunayn pun usai. Korban di pihak muslim secara mengejutkan sangat sedikit akibat pemanah Hawazin yang kurang ahli. Memang Banyak yang terluka, tetapi hanya empat orang yang tewas. Alasan kuat kejadian ini bisa terjadi adalah karena keterampilan perang yang lebih dan keberanian yang dibangkitkan oleh pemimpinnya. Petarung yang paling ahli di antara kaum muslim mampu setidaknya membunuh 3-4 orang musuh berturut-turut. 70 orang musuh tewas di lembah Hunayn, di celah sempit Hunayn, dan di Autas. Di perkemahan Autas, muslim menawan 6.000 perempuan, anak-anak, dan budak. Harta rampasan perang yang mereka peroleh adalah ribuan unta, kambing, dan domba.
Inilah untuk pertama kalinya pasukan muslim disergap dalam skala besar. Pertempuran ini juga adalah yang kedua dalam sejarah penyergapan oleh keseluruhan pasukan terhadap keseluruhan pasukan musuh (yang pertema adalah penyergapan pasukan Hannibal terhadap pasukan Romawi di Danau Tramisene tahun 217 SM). Malik memang memiliki rencana militer yang dahsyat untuk menghancurkan pasukan muslim. Namun penampilan buruk dari pasukannya tidak bisa memenuhi rencananya. Meskipun demikian, Malik bisa saja memenangkan peretmpuran ini jika musuh tidak memiliki pemimpin yang memiliki determinasi yang tinggi seperti Muhammad dan pasukan muslim yang sangat percaya pada pemimpinnya. Tidak seperti Malik, Muhammad tidak cepat puas dengan raihan kecil.
Pertempuran ini juga merupakan pengalaman pertama bagi Khalid disergap. Ia selalu mengetahui nilai sebuah kejutan dalam pertempuran, tetapi kali ini ia terperangkap dalam kejutan tersebut. Ia melihat bagaimana pasukannya termasuk yang pemberani menjadi panik akibat kemunculan pasukan musuh yang tiba-tiba di waktu dan tempat yang tidak diharapkan. Ia bertekad untuk tidak pernah lagi untuk terperangkap karena tidak hati-hati, dan dia ternyata memang tidak pernah lagi mengalami hal ini di pertempuran-pertempuran berikutnya.
Sumber
Komentar
Posting Komentar