Perang Parit

Beberapa hari setelah kembali ke Makkah, Pertempuran Uhud masih membekas dalam pikiran Khalid. Dia berpikir berkali-kali tentang manuvernya pada pertempuran tersebut. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa pasukan muslim begitu berani dan kers kepala. Ia berpikir hal tersebut sangatlah aneh, bagaimana sebuah pasukan kecil yang diserbu oleh pasukan dengan jumlah lebih besar dari berbagai arah mampu bertahan untuk melindungi pemimpinnya dan kepercayaannya. Dia berpikir bahwa bukankah mereka juga orang Arab sama seperti pasukannya dan mungkin ada sesuatu yang lebih dari kepercayaan itu dan kepribadian Muhammad. Tetapi pikirannya ini belum membuka keinginannya untuk memasuki Islam. Ia kembali berpikir bagaimana memerangi pasukan muslim di pertempuran berikutnya, seperti seorang atlet memikirkan pertendingan berikutnya.

Dalam dua tahun berikutnya, hampir tidak ada pertikaian militer yang cukup penting antara Makkah dan Madinah. Janji pasukan Makkah untuk kembali bertempur di Badr satu tahun setelah Pertempuran Uhud tidak mereka penuhi. Muhammad hadir di tempat pertempuran yang dijanjikan dengan 1.500 pasukan, termasuk 50 kavaleri. Sedangkan Abu Sufyan sempat mempersiapkan pasukan, tetapi mundur kembali ke Makkah, alasannya musim tahun itu sangat kering sehingga tidak tepat untuk bertarung pada tahun itu. Muhammad bertahan bersama pasukannya di Badr selama 8 hari dan akhirnya pulang ke Madinah.

Sebelum pertempuran yang batal ini, Muhammad telah mengusir dua klan Yahudi yang melanggar Konstitusi Madinah (salah satunya berupaya untuk membunuh Muhammad): Bani Qainuqa dan Bani Nazhir. Bani Nazhir membuat pemukiman baru di Khaybar, utara Madinah. Sedangkan klan Yahudi Madinah lainnya, Bani Qurayzhah, masih setia pada Konstitusi Madinah dan hidup berdampingan dengan warga lainnya di Madinah.

Bani Nazhir yang masih menyimpan dendam berharap agar pasukan muslim kalah dalam Pertempuran Badr kedua. Namun karena pertempuran tersebut tidak jadi berlangsung, mereka memutuskan untuk melakukan aksi langsung untuk menghancurkan Muhammad dan pengikutnya. Pada akhir musim panas tahun 626 M, Delegasi Yahudi dari Khaybar berangkat ke Makkah. Pemimpin mereka adalah Huyay bin Akhtab, kepala klan Bani Nazhir. Delegasi ini diterima oleh Abu Sufyan dan mereka melangsungkan sebuah konferensi untuk melakukan ekspedisi militer dalam rangka menghancurkan Islam. Huyay memprovokasi kelompok Makkah bahwa jika pasukan Islam menguasai Yamamah, jalur perdagangan Makkah-Iraq dan Bahrayn akan terputus. Padahal jalur perdagangan inilah yang bisa mereka harapkan selain jalur perdagangan ke Yaman setelah jalur perdagangan mereka ke Syams terputus akibat Madinah dikuasai Islam. Quraisy Makkah pun setuju untuk memerangi Muhammad asalkan suku-suku Arab lainnya ikut bergabung dengan mereka.

Delegasi Yahudi ini kemudian pergi ke Ghatfab dan Bani Asad dengan tujuan yang sama. Ghatfan dan Bani Asad juga setuju untuk berkoalisi menghancurkan Islam.

Persiapan ekspedisi dimulai. Kontingen-kontingen dari berbagai suku mulai berkonsentrasi pada awal Februari 627 M. Quraisy menyumbangkan pasukan terbesar: 4.000 pasukan, 300 kuda, dan 1.500 unta. Ghatfan membawa 2.000 orang di bawah kepemimpinan Uyainah bin Hisn. Bani Sulaym mengirim 700 pasukan. Pasukan Bani Asad tidak tercatat jumlahnya dipimpin oleh Tulaiha bin Khuwailid. Quraisy dan beberapa suku Arab lain berkonsentrasi di Makkah. Ghatfan, Bani Asad, dan Bani Sulaym berkonsentrasi di kota masing-masing: utara, timur laut, dan timur Kota Madinah. Kekuatan total pasukan sekutu ini adalah 10.000 (termasuk pasukan dari suku-suku kecil lainnya yang tidak disebutkan). Abu Sufyan menjadi panglima tertinggi pasukan ini. Dalam penceritaan berikutnya, pasukan ini akan disebut Sekutu.

Pada hari Senin, 24 Februari 627 M-1 Syawwal 5 H, Sekutu telah berkumpul di dekat Madinah dan mendirikan perkemahannya. Kontingen dari Makkah berkemah di selatan areal pepohonan, barat Bukit Uhud. Ghatfan dan suku-suku lainnya berkemah di Zanab Naqnia, 3,2 km di timur Bukit Uhud.

Mata-mata Madinah mengirimkan kabar tentang pasukan musuh pada Muhammad. Rasio jumlah pasukan Islam dan musuh masing-masing 1:3 dan 1:4 pada Pertempuran Badr dan Uhud. Meskipun jumlah pasukan muslim di Madinah telah bertambah manjadi 3.000 orang, beberapa ratus orang di antara mereka adalah kaum Munafiq yang sangat tidak bisa diharapkan. Angka 10.000 pasukan yang dibawa oleh musuh terdengar sangat mencekam bagi mereka karena baru kali ini jumlah pasukan sebesar itu terdengar di Hijaz, Jazirah Arab.

Kemudian datanglah angin segar dari saran yang diajukan Salman Al-Farisi atau Salman, Orang Persia. Ia menjelaskan bahwa jika orang Persia harus bertempur secara bertahan melawan pasukan dengan jumlah jauh lebih besar, mereka akan menggali sebuah pasrit yang sangat besar dan dalam sehingga tidak bisa dengan mudah disebrangi. Metode ini tidak pernah digunakan atau didengar oleh orang Arab saat itu dan pengajuan Salman diterima.

Muhammad memerintahkan untuk melakukan penggalian. Banyak warga Madinah yang tidak terbiasa dengan taktik ini terlihat tidak bersemangat untuk menggali. Kaum munafiq seperti biasa mengajak mereka yang tidak berpendirian kuat untuk berhenti dari usaha semacam ini. Tetapi Muhammad turun langsung dan ikut menggali dan akibatnya, tidak satupun yang merasa muslim meninggalkan tugas untuk menggali. Setiap 10 orang menggali sekitar 20 meter memanjang.

Parit dibangun dari Syaikhan ke Bukit Zubab, lalu berlanjut ke Jabal Bani Ubayd. Di timur Syaikhan dan tenggara Jabal Bani Ubayd membentang lapangan luas berbatuan beku yang tidak rata dan tidak bisa dilewati oleh pergerakan militer yang utama. Sedikit di , selatan dari bagian tengah parit, terdapat Bukit Sil'a setinggi sekitar 122 m dengan panjang sekitar 1,6 km. Sedikit di seberang utaranya membentang kaki Bukit Sil'a sampai bertemu Bukit Zubab. Lihat gambar berikut!


Namun, Sekutu bergerak sepanjang parit di utara dan timur laut Madinah. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengepung Madinah. Mereka menunggu ada bagian dari parit dengan penjagaan yang lemah. tetapi usaha ini sia-sia. Mereka juga terus menghujani pasukan muslim dengan panah.

Dalam 10 hari, moral kedua pasukan semakin buruk. Muslim mulai kelaparan karena stok makanan di Madinah mulai menipis. Kaum Munafiq mulai berkoar mengkritik Muhammad. Namun, usaha mereka tidak digubris oleh kebanyakan pasukan yang tetap teguh untuk mempertahankan kota dan keimanan mereka.

Sekutu pun tidak lebih baik keadaannya. Pasukan mereka mulai tidak sabar. Orang-orang Arab tidak biasa melakukan pengepungan yang terlalu lama. Cuaca juga tidak mendukung dan memperburuk tekanan di sisi Sekutu. Perbekalan dan logistik yang mereka siapkan pun tidak disiapkan untuk ekspedisi yang terlalu lama. Akhirnya Abu Sufyan berkonsultasi dengan Huyay, kepala Klan Bani Nazhir. Mereka pun membuat rencana yang terlihat cukup menjanjikan.

Malam tanggal 7 Maret, Yahudi pemimpin Bani Nazhir, Huyay bin Akhtab, berhasil menyusup ke perkampungan Yahudi Bani Qurayzah di pinggiran Kota Madinah. Ia mengetuk pintu rumah pemimpin Bani Qurayzah, Ka'ab bin Asad. Ka'ab berusaha untuk tetap loyal pada perjanjian dengan Muhammad dan Konstitusi Madinah menolak Huyaiy untuk masuk. Tetapi Huyaiy terus memaksa dan akhirnya ia dipersilakan masuk. Pembicaraan terjadi dan Ka'ab berkata, "Muhammad telah membuat perjanjian damai dengan kami dan tidak ada alasan bagi kami untuk melanggarnya. Dalam kondisi apapun, Engakau tidak punya peluang menang. Jika kami bergabung dengan Kalian dan penyerangan ini gagal, para penyembah berhala sekutu kalian itu akan pulang ke rumah dengan aman, sedangkan kami harus menghadapi kemarahan Muhammad." Namun Huyay terus menekan, mengancam, dan mengemis sehingga akhirnya Ka'ab menerima tawarannya. Perjanjiannya adalah pasukan Sekutu dan Bani Qurayzah akan menyerang secara bersamaan, Sekutu dari luar dan Bani Qurayzah dari dalam. Jika serangan gagal, pasukan Sekutu akan menyisakan pasukannya untuk melindungi Bani Qurayzah dari hukuman Muhammad. Bani Qurayzah meminta waktu sepuluh hari sementara pasukan Sekutu terus melakukan konfrontasi seperti biasa dari luar Madinah.

Dengan demikian, seluruh Yahudi Madinah, mengikuti rekan seagama mereka yang telah diusir, membatalkan secara sepihak perjanjian damai mereka dengan muslim Madinah. Mereka tidak mengetahui konsekuensi dari perbuatan mereka terhadap diri mereka sendiri.

Tidak lama kemudian, Muhammad mengetahui pengkhianatan ini. Mata-matanya yang menyelinap di perkemahan Sekutu mencuri dengar tentang peristiwa ini. Pengkhianatan ini juga semakin jelas ketika Safiyyah, bibi Muhammad, yang berlindung bersama seluruh wanita dan anak-anak muslim lainnya di suatu rumah, membunuh seorang Yahudi yang ternyata adalah mata-mata Bani Qurayzah.

Situasi semakin menegangkan. Kaum munafik semakin menjadi-jadi menyebarkan keputusasaan. Kondisi pasukan muslim semakin parah karena makanan hanya cukup untuk setengah pasukan. Ancaman kelaparan semakin jelas.

Muhammad memutuskan untuk menggunakan strategi diplomasi. Ia memulai negosiasi dengan Uyainah, panglima pasukan Ghatfan yang terkenal lebih mengandalkan otot daripada otaknya. Tujuan negosiasi ini adalah memisahkan dua pasukan utama dari Sekutu: Ghatfan dan Quraisy. Jika Ghatfan berhasil dibujuk untuk mundur, suku-suku lain pun akan terpengaruh untuk mundur. Tetapi jika suku lain tetap bertahan, Sekutu akan kehilangan 2.000 pasukan dari Ghatfan dan kekuatan mereka akan jauh berkurang. Ia pun bertemu secara diam-diam dengan Uyainah.

Muhammad berkata pada Uyainah, "Jika Ghatfan berpisah dengan Sekutu dan pulang ke kota mereka, mereka akan mendapat sepertiga produksi kurma Madinah." Tawaran ini diterima oleh Uyainah yang telah kehilangan semangat untuk berperang. Tetapi sebelum perjanjian tersebut disepakati secara formal, beberapa pemimpin muslim menolak. Akhirnya upaya diplomasi ini gagal.

Namun, kesempatan bagi muslim kembali terbuka. Nu'aim bin Mas'ud dari Ghatfan ternyata telah masuk Islam secara rahasia. Ia secara diam-diam berhasil menyusup ke pertahanan muslim dan bertemu Muhammad untuk menawarkan tenaganya untuk mengadu domba Sekutu dengan Bani Qurayzhah. Tawaran ini diterima oleh Muhammad. Malam itu juga, Nu'aim masuk ke perkampungan Bani Qurayzhah sebagai seorang Ghatfan, sekutu mereka. Ia bertemu dengan Ka'ab dan berkata, "Situasi kalian tidak seperti situasi Quraisy dan Ghatfan. Kalian punya keluarga dan rumah di sini, sementara rumah dan keluarga mereka jauh dari Madinah. Mereka tidak terlalu berkepentingan dengan pertempuran ini. Jika mereka gagal mengalahkan Muhammad, mereka akan pulang dan meninggalkan kalian pada kemarahan kaum muslim. Kalian jangan berbuat apa-apa dalam persekutuan dengan mereka sampai mereka mau memberikan tawanan dari keluarga terbaik mereka. Dengan itu, kamu punya jaminan untuk mempercayai mereka."
Nu'aim pergi ke pimpinan pasukan Quraisy dan Ghatfan. Nu'aim cukup dikenal di kalangan Quraisy maupun Ghtatfan. Ia berkata dalam kesempatan terpisah di masing-masing pasukan, "Kalian telah membuat perjanjian dengan orang-orang yang licik dan tidak bisa dipercaya. Saya telah mengetahui dari teman saya di madinah bahwa Bani Qurayzhah telah membelot dan membuat perjanjian damai baru dengan Muhammad. Untuk membuktikan kesetiaan mereka pada Muhammad, mereka akan meminta tawanan dari keluarga terbaikmu, yang nantinya akan mereka serahkan pada Muhammad untuk dibunuh. Yahudi akan akan secara terbuka bersekutu dengan Muhammad dan mereka akan melakukan serangan gabungan melawan kita. Dalam kondisi apapun, jangan berikan tawanan jaminan kepada Yahudi."

Dengan sandiwara ini, bibit ketidakpercayaan telah tertanam dalam pikiran Sekutu. Abu Sufyan mengirim delegasi yang dipimpin Ikrimah ke perkampungan Bani Qurayzhah untuk menguji kesetiaan Yahudi. Ia berkata pada pimpinan Yahudi Bani Qurayzhah, "Situasi sangat gawat. Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Kita akan menyerang besok. Kalian telah berjanji pada kami untuk melawan Muhammad. Kalian harus bergabung dalam serangan besok dari perkampungan Kalian."

Para pemimpin Bani Qurayzhah berpikir sejenak dan akhirnya berkata, "Posisis kami lebih tidak menguntungkan daripada kalian. Jika Kalian gagal, Kalian akan meniggalkan kami, dan kemudian kami ditinggal sendiri menghadapi kemarahan Muhammad. Untuk memastikan ini tidak terjadi, Kalian harus memberikan tawanan kepada kami dari keluarga terbaik kalian yang tinggal bersama kami sampai pertempuran mencapai hasil yang memuaskan. Lagipula, besok adalah hari Sabtu dan Yahudi dilarang untuk berperang pada hari Sabbath. Mereka yang melanggar larangan hari Sabbath akan Allah ubah menjadi babi dan kera." Ikrimah pulang tanpa hasil. Abu Sufyan kemudian memutuskan untuk mengirim delegasi dengan tujuan yang sama dengan delegasi sebelumnya. Tetapi hasilnya tetap sama. Sekutu: tidak ada tawanan; besok berperang! Sementara Bani Qurayzhah: Tidak ada perang di hari Sabbath; Selain itu, tawanan yang utama!

Semua kelompok sekarang berkata, "Nu'aim benar. Betapa bijak saran mereka pada kita!" Kerja Nu'aim berhasil. Pengkhianat Bani Qurayzhah melepaskan diri dari perjanjiannya dengan Sekutu.

Pagi besoknya, Sabtu, 15 Maret, Khalid dan Ikrimah, yang lelah menunggu, memutuskan untuk bertindak. Mereka maju dengan pasukan kavalerinya dan menempatkan diri di barat Zubab (Lihat peta di subbab sebelumnya!). Parit di lokasi ini bisa dilalui oleh pasukan berkuda. Lokasi ini tepat di depan perkemahan muslim di kaki Sil'a.

Pasukan Ikrimah bergerak terlebih dahulu menyeberangi parit dan memosisikan diri di depan perkemahan muslim. Jumlah mereka sebanyak tujuh orang termasuk Ikrimah dan seorang lelaki besar dengan kuda yang besar pula. Lelaki ini bernama Amr bin Abdu Wud, tinggi besar dan tidak terkalahkan dalam duel. Ia kemudian berteriak, "Aku Amr bin Abdu Wud. Aku prajurit terkuat di tanah Arab. .... Adakah salah seorang dari Kalian yang berani menghadapiku dalam duel?"

Tantangan ini tidak dijawab oleh muslim. Mereka saling melihat, tetapi tidak ada yang bergerak. Amr dan rekan-rekannya tertawa dan mengulangi tantangannya, "Jadi tidak ada di antar Kalian orang yang berani? Bagaimana dengan ke-Islaman dan Nabi Kalian?" Dengan tantangan ini, Ali meninggalkan posnya mendekati Muhammad. Ia meminta izin untuk mendiamkan Amr dengan pedangnya. Muhammad menjawab, "Kembalilah! Dia adalah Amr!" Ali pu kembali. Amr kembali menantang kembali dan Ali kembali meminta izin pada Muhammad, tetapi tidak diizinkan.

Amr berteriak kembali, "Mana surga Kalian? Bukankah Kalian berkata mereka yang tewas di pertempuran akan memasukinya? Bisakah Kalian mengutus seseorang untuk bertarung denganku?"

Ali kembali maju dan akhirnya Muhammad mengizinkan setelah melihat keseriusan Ali. Muhammad melilitkan sorbannya ke kepala Ali. Ia memberikan pedangnya kepada Ali. Muhammad berdoa, "Ya Allah! Tolonglah ia!"

Pedang yang Muhammad berikan akan menjadi pedang paling terkenal di dalam dunia pertempuran Islam. Pedang itu bernama Zulfikar (sebuah pedang yang memiliki cabang di ujungnya, seperti lidah ular-pen).

Ali segera mengumpulkan beberapa orang untuk berhadapan dengan pasukan musuh. Kelompoknya berdiri agak jauh dari Amr dan Ali pun maju menghadapi Amr (Ali berusia sekitar 20-an pada saat itu, tubuhnya bisa dikatakan kecil untuk ukuran orang Arab-pen). Amr mengenal Ali karena Amr adalah teman Abu Thalib, ayah Ali.

"Hai Amr," panggil Ali, "Aku tahu bahwa jika seorang Quraisy mengajukan dua penawaran kepadamu, Kamu selalu menerima salah satunya." Amr menjawab, "Benar."

Ali berkata kembali, "Kalau begitu, aku mengajukan dua penawaran kepadamu. Penawaran pertama adalah: terimalah Allah, Rasul-Nya, dan Islam."

Amr menjawab, "Aku tidak perlu keduanya." Ali mengajukan penawaran kedua, "Jika demikian, turunlah dari kudamu dan bertarunglah denganku."

Amr menjawab, "Mengapa, hai anak saudaraku? Aku tidak berkeinginan membunuhmu." Ali membalas, "Tetapi Aku sangat ingin membunuhmu."

Amr pun marah. Dengan segera ia turun dari kudanya, menghunus pedangnya, dan menyerang Ali. Pertarungan dimulai. Amr menyabetkan pedangnya beberapa kali, tetapi Ali tidak terluka. Ia bisa menghindari serangan atau menangkis sabetan musuhnya. Amr mundur kelelahan dan mulai berpikir bagaimana Ali bisa menghadapi kekuatannya. Sebelumnya tidak pernah ada yang bisa bertahan lama berduel dengannya.

Kejadian berikutnya berlangsung sangat cepat. Ali melepaskan pedang dan perisainya ke tanah. Ia meloncat dengan cepat dan berhasil mencekik leher Amr. Ia kemudian menendang Amr dengan keras. Amr kehilangan keseimbangan dan tersungkur keras ke tanah. Sekarang Amr terlentang dan Ali duduk di atas dada Amr. Ali mengunci pergerakan Amr. Wajah Amr menjadi pucat, urat-uratnya menyembul dan lengannya yang besar gemetar berusaha untuk melepaskan diri dari kuncian Ali. Ali berkata, "Ketahuilah Amr! Bahwa kemenangan dan kekalahan bergantung pada kehendak Allah. Terimalah Islam! Dengan demikian, bukan hanya kehidupan yang akan Engkau peroleh, tetapi juga kenikmatan rahmat Allah di dunia dan akhirat." Ali menghunus belatinya dan mendekatkannya ke leher Amr.

Amr merasa dipermalukan oleh anak muda dengan ukuran tubuh yang jauh lebih kecil daripadanya. Ia pun kemudian marah dan meludahi wajah Ali. Amr telah bersiap untuk mati dan menyerahkan lehernya pada Ali. Namun hal yang mengejutkan terjadi. Ali bangkit perlahan dan melepaskan kunciannya, kemudian mengelap mukanya. "Ketahuilah Amr! Aku hanya membunuh karena Allah dan bukan karena motif pribadi. Karena Engkau telah meludahi wajahku, pembunuhanku padamu sekarang mungkin hanya karena kemarahanku atasmu. Jadi, aku biarkan Engkau hidup. Bangkitlah dan pulanglah ke teman-temanmu!"

Amr bangkit, tetapi ia malah menyerang Ali kembali. Ia menyabetkan pedang dengan keras dan perisai Ali terlempar. Ali terluka, tetapi berukuran kecil. Sebelum Amr sempat mengayunkan pedangnya lagi, Zulfiqar telah memotong leher Amr. Darah pun bersemburan seperti air mancur dari lehernya. Amr roboh dan tewas dalam duel ini. Teriakan Allahu akbar 'Allah Maha Besar' terdengar dari perkemahan pasukan muslim.

Pasukan muslim yang menemani Ali segera menyerbu keenam sisa pasukan Ikrimah. Satu orang dari masing-masing pihak tewas dalam pertarungan ini. Pasukan Ikrimah mundur. Naufal bin Abdullah, salah seorang dari mereka yang melarikan diri berhasil dikejar dan kepalanya berhasil ditebas oleh Ali.

Kelompok Ali segera kembali ke perkemahan. Lokasi tempat pertarungan tadi segera dijaga oleh sejumlah pasukan muslim.

Siang keesokan harinya, Khalid bergerak bersama pasukan kavalerinya ke tempat yang sama dengan lokasi kekalahan pasukan Ikrimah. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak karena penjagaan lebih ketat. Pertempuran terjadi dengan saling memanah, satu orang dari masing-msaing pasukan tewas. Khalid kemudian berpura-pura untuk mundur dan menjauh dari parit. Pasukan muslim terpancing dan mengendorkan pertahanannya. Tiba-tiba Khalid berbalik. Ia dan beberapa dari pasukannya berhasil menyeberangi parit. Tetapi pasukan muslim kembali berkumpul. Khalid berusaha menembus pertahanan ini, tetapi gagal. Ia berhasil membunuh seorang muslim, kemudian kembali mundur.

Peristiwa ini adalah pergerakan militer utama yang terakhir dalam Pertempuran Parit. Dalam dua hari ke depan, tidak ada aktivitas militer selain beberapa aktivitas militer ringan seperti saling memanah. Pasukan muslim sekarang telah benar-benar kehabisan bahan makanan, tetapi mereka tetap bertahan untuk tidak menyerah dalam pertempuran ini. Sedangkan kondisi di perkemahan Sekutu leih buruk. Temperamen pasukan memanas dan semangat mereka menurun. Mereka kecewa pertempuran yang seharusnya bisa mereka menangkab dengan mudah berlangsung lama dan tidak memberikan kemajuan sama sekali.

Pada malam tanggal 13 Maret, wilayah di sekitar Madinah dihantam badai gurun yang cukup dahsyat. Angin dingin mengacaukan perkemahan pasukan Sekutu. Suhu turun sangan rendah. Kemah-kemah beterbangan. Api tidak bisa dihidupkan. Para pasukan hanya bisa berlindung di dalam selimutnya menunggu badai reda.

Dalam kondisi demikian, Abu Sufyan tidak bisa menahan lebih lama lagi. Ia berteriak pada pasukannya untuk segera pulang. Seluruh pasukan dan hewan kendaraan mereka telah sangat menderita. Bani Qurayzhah telah mengkhianati mereka. Ia segera naik ke untanya dan pulang diikuti pasukannya di tengah badai. Ghatfan yang mengetahui hal ini juga segera melakukan hal yang sama. Khalid dan Amr bin Al-Ash (berbeda dengan Amr sebelumnya) memimpin pasukan berkuda menjaga barisan belakang pasukan Quraisy.

Keesokan paginya, pasukan muslim bar mengetahui bahwa Sekutu telah pulang dan menghentikan pengepungan. Serangan Sekutu ini adalah serangan terakhir untuk menghancurkan muslim. Dalam kesempatan berikutnya, mereka akan selalu dalam posisi defensif.

Pertempuran Parit usai dengan dimenangkan oleh pasukan Madinah. Mereka sanggup bertahan sampai saat-saat terakhir pertempuran dan membuat putus asa pasukan pengepung. Pengepungan yang gagal mencapai hasil ini berlangsung dalam 23 hari. Dalam pertempuran inilah untuk pertama kalinya muslim menggunakan strategi politik dan diplomasi dalam perang. Mereka berhasil memecah belah perjanjian antara pasukan Sekutu dan pengkhianat Bani Qurayzhah. Dengan ini juga, mereka mampu melemahkan semangat pasukan musuh karena perpecahan.

Komentar