Semua orang di Makkah sangat bergembira dengan pulangnya kafilah dagang mereka dari Palestina. Kafilah ini menghadapi bahaya dalam beberapa hari perjalanan mereka di tepi pantai dekat Madinah dan hampir saja mereka jatuh ke tangan Muslim. Karena keterampilan dan kepemimpinan Abu Sufyan yang memimpin, kafilah dagang Makkah selamat dari penangkapan. Kafilah ini membawa 1000 unta dan barang-barang dagangan seharga 50.000 dinar (1 dinar seharga dengan 4,25 g emas-pen). Karena setiap keluarga di Makkah telah berinvestasi, begitu banyak keuntungan yang mereka peroleh. Ketika itu, musim adalah musim semi di Arab, Maret 624 M.
Meskipun mereka bergembira, pasukan pertahanan Makkah harus pulang dalam keadaan lelah, terguncang, dan dipermalukan. Mereka baru saja kalah dalam Pertempuran Badr. Padahal mereka sebenarnya tidak perlu terjun dalam medan pertempuran karena kafilah yang mereka lindungi telah lolos dari bahaya. Tetapi keangkuhan Abu Jahl yang memimpin pasukan membuat mereka merasa perlu untuk menghancurkan kekuatan muslim saat itu juga. Abu Sufyan dan Hindun, istrinya, kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Utbah (ayah Hindun), Syaibah (paman Hindun), Walid (saudara Hindun), dan Handhalah (anak Abu Sufyan dan Hindun) tewas di tangan Ali dan Hamzah. Hindun pun mengutuk Ali dan Hamzah dan bersumpah untuk membalas dendam.
Pertempuran Badr adalah konflik fisik penting pertama antara muslim dan musuhnya. Sebuah pasukan kecil dengan jumlah 313 orang Islam telah berhasil mengalahkan 1.000 pasukan Makkah dalam waktu satu sampai dua jam pertempuran yang sangat sengit. 70 orang pasukan Makkah tewas dan 70 orang lainnya ditawan. Sedangkan korban di pihak muslim sebanyak 14 orang. Di antara 70 orang yang ditawan, ada 17 orang dari Bani Makhzum (klan Khalid-pen), kebanyakan adalah sepupu dan keponakan Khalid. Abu Jahl tewas. Walid, Saudara Khalid, ditawan.
Dua hari kemudian, Abu Sufyan mengadakan konferensi bersama pemimpin-pemimpin Quraisy. Hasilnya, diputuskan mereka akan melakukan serangan balas dendam. 50.000 dinar yang baru diperoleh dibelanjakan untuk keperluan perang. Abu Sufyan ditunjuk sebagai panglima pasukan. Abu Sufyan pada awalnya melarang segala upaya untuk membebaskan para tawanan Makkah di tangan muslim. Tetapi akhirnya ia melunak dan mengoorodinasikan upaya-upaya untuk membebaskan tawanan.
Tebusan tertinggi adalah 4.000 dirham (mata uang Arab lainnya yang dinilai dengan perak-pen). Sebagian tawanan yang miskin tetapi mereka bisa membaca diharuskan oleh pihak Islam untuk mengajarkan membaca kepada orang muslim di Madinah. Ia dibebaskan setelah jangka waktu pengajaran selesai. Di antara mereka yang bernegosiasi di Madinah adalah Khalid dan saudaranya Hisyam. Mereka membebaskan Walid, saudara mereka dengan tebusan yang paling mahal, 4.000 dirham. Tetapi di tengah jalan pulang, Walid justru kembali ke Madinah dan menyatakan keislamannya langsung di hadapan Muhammad. Setalah peristiwa ini, hubungannya dengan Khalid tetap hangat sebagaimana sebelumnya.
Jalur perdagangan Makkah-Syams sekarang menjadi jalur yang tidak aman lagi karena Madinah menghalangi jalan mereka. Akibatnya, Ikrimah bin Abu Jahl menjadi tidak sabar dan mendesak Abu Sufyan untuk menyegerakan pertempuran. Tetapi Abu Sufyan cukup bijak dan berupaya untuk mengumpulkan segala kekuatan baik kuda, unta, dan persenjataan sampai maksimum.
Satu tahun kemudian, Maret 625 M, ekspedisi dimulai.Pasukan Makkah yang berangkat sebanyak 3.000 orang, 700 di antaranya memakai baju zirah. Mereka membawa 3.000 unta dan 200 kuda. 15 wanita Quraisy juga ikut dipimpin oleh Hindun. Tugas mereka adalah mengingatkan akan teman-teman mereka yang tewas ketika Pertempuran Badr tahun lalu.
Muhammad mendapatkan peringatan dari mata-matanya di Makkah tentang keberangkatan pasukan ini. Mata-mata itu adalah Abbas, pamannya sendiri yang masih tinggal di Makkah dengan menyembunyikan keislamannya. 20 Maret, pasukan Makkah tiba di dekat Madinah dan membuat perkemahan di daerah berpohon bagian barat Bukit Uhud. Muhammad mengirimkan dua orang pengintainya untuk mengobservasi pasukan Quraisy.
21 Maret, Muhammad meninggalkan Madinah dengan 1.000 pasukan, 100 orang menggunakan baju zirah, hanya memiliki dua kuda, satu kuda adalah kuda Muhammad sendiri. Mereka berkemah di dekat sebuah bukit kecil bernama Syaikhan, sekitar 2 km di utara Madinah. Keesokan paginya, 300 orang pasukan Madinah yang munafik dipimpin oleh Abdullah bin Ubay mundur ke Madinah karena menganggap tidak ada kemungkinan untuk menang dalam pertempuran ini. Pasukan muslim akhirnya hanya terdiri dari 700 orang saja.
Bukit Uhud adalah bukit batu yang cukup masif membentang sekitar 7 km di utara Madinah (referensi pusat Madinah adalah Masjid Nabawi) dan memiliki tinggi sekitar 300 m di atas dataran di sekitarnya. Bentangan bukit ini memanjang 9 km.
Muhammad membariskan pasukannya di antara pasukan Makkah dan Bukit Uhud. Formasi pasukannya padat dengan garis depannya memanjang sekitar 900 m. Ia menempatkan sayap kanan di anak bukit Uhud dan sayap kirinya di anak bukit bernama Ainain yang agak rendah setinggi 12 m dan memanjang 150 m. Sayap kanan aman, tetapi sayap kirinya bisa diserang dari belakang Ainain. Muhammad mengatasi ini dengan menempatkan 50 orang pemanah di Ainain di bawah pimpinan Jubair dengan perintah menghentikan seluruh serangan kavaleri musuh yang menyerang dari belakang dan mereka dilarang meninggalkan posnya dalam kondisi apapun.
Di belakang pasukan ini, 14 perempuan muslim ditempatkan dengan tugas memberi air minum bagi pasukan yang kehausan dan mengobati pasukan yang terluka. Muhammad sendiri menempatkan diri di sayap kiri pasukan.
Formasi yang diterapkan Muhammad ditujukan untuk membawa peperangan frontal dan disusun dengan sangat rapih. Formasi dan penempatan yang ada memberikan pasukan Madinah keuntungan untuk memanfaatkan secara maksimal keberanian dan kemampuan tempur mereka. Mereka tidak perlu khawatir dengan kavaleri mereka yang akan sangat mobil. Pasukan Abu Sufyan terpaksa meladeni pertempuran ini dengan kondisi kavaleri mereka tidak bisa maksimal di medan perbukitan. Perlu dicatat juga, pasukan Madinah menghadap ke Kota Madinah dan jalan terbuka lebar bagi pasukan Quraisy Makkah untuk menuju ke kota itu. Tetapi tentu saja mereka tidak bisa membiarkan barisan belakang mereka diserang oleh muslim. Ini adalah strategi yang sangat umum dipakai pada pertempuran-pertempuran klasik: melindungi basis pertahanan dengan menempatkan musuh di antara pasukan dengan basis pertahanan tersebut.
Pagi hari Sabtu, 22 Maret 625 M-7 Syawwal 3 H, tepat satu tahun lewat satu minggu setelah Pertempuran Badr. Quraisy bergerak terlebih dahulu. Seorang pemimpin Madinah yang membelot ke Makkah berteriak mengajak pasukan Madinah yang berasal dari kaln Bani Aws untuk membelot bertempur melawan Muhammad. Jawabannya adalah penolakan dan lemparan batu dari muslim Bani Aws yang setia pada pemimpin barunya, Muhammad.
Setelah kejadian ini, terjadi pertarungan panah antara dua pasukan. Dengan perlindungan pemanah tadi, Khalid yang memimpin kavaleri kuda menyerang sayap kiri pasukan Madinah. Tetapi ia dipaksa untuk mundur lagi ke garis pertahanannya karena tembakan panah akurat dari pemanah Madinah.
Fase berikutnya adalah duel petarung-petarung dari dua pasukan. Talha, pemegang bendera Quraisy, maju dari garis depan dan menantang siapapun yang ingin berduel dengannya. Ali langsung menyambarnya dengan pedang dan Talha terluka. Ketika Ali hendak mengayunkan pedangnya lagi, Talha meminta belas kasihan dan Ali pun mundur kembali. Talha ditawan. Seorang Quraisy maju dan memegang bendera, tetapi ia di bunuh oleh Hamzah.
Duel menjadi lebih terbuka. Satu per satu keluarga Talha mengangkat kembali bendera pasukan Makkah, tetapi mereka satu per satu tewas di tangan muslim, kebanyakan oleh Ali. Abu Sufyan yang berkuda juga berduel dengan Handhalah bin Abu Amir yang tidak berkuda. Handhalah berhasil memotong kaki kuda Abu Sufyan dan Abu Sufyan meminta tolong pada rekan di dekatnya. Handhalah terbunuh. Abu Sufyan pun segera mundur terburu-buru kembali ke jajaran pasukannya. Petarung Quraisy lainnya adalah Abdurrahman bin Abu Bakr. Ia dihadapi oleh ayahnya sendiri, Abu Bakr. Tetapi Muhammad memerintahkan Abu Bakr untuk menyarungkan pedangnya kembali. Abdurrahman bin Abu Bakr nantinya akan masuk Islam dan ia menjadi prajurit terkenal dalam ekspedisi penaklukan Syams setelah Muhammad wafat.
Segera setelah duel-duel berlangsung, pertempuran berlangsung pada seluruh pasukan. Pasukan Madinah unggul dalam keterampilan pedang dan keberanian, teteapi keunggulan ini agak ditekan dengan jumlah Quraisy yang jauh lebih banyak. Khalid mencoba lagi menyerbu ke sayap kiri muslim, tetapi kembali dihalangi oleh pemanah di bukit Ainain.
Muhammad sendiri berpartisipasi dalam perang ini dengan memanah ke arah kumpulan pasukan Quraisy. Di sampingnya berdiri Sa'ad bin Abi Waqqas yang merupakan pembuat panah profesional dan termasuk dalam golongan pemanah terbaik di masa itu. Muhammad mengindikasikan target dan Sa'ad memanah secara tepat sesuai target yang dikatakan Muhammad.
Pasukan Quraisy mulai terguncang meski jumlah mereka jauh lebih banyak. Pasukan muslim terus menekan. Pemegang bendera Quraisy terus berganti karena selalu terbunuh satu per satu sampai akhirnya tidak ada lagi yang memegang bendera itu. Pasukan Quraisy akhirnya terpecah dan melarikan diri dalam arah tidak beraturan.
Pasukan Madinah mulai mengejar musuh mereka. Perempuan-perempuan Quraisy yang menyemangati para pasukannya juga ikut lari. Pasukan muslim berhasil meguasai perkemahan musuh. Tidak ada lagi keteraturan, disiplin, kontrol di pihak muslim karena mereka sudah merasa menang. Fase pertama pertempuran telah usai. Korban yang jatuh memang ringan, tetapi kekalahan pasukan Quraisy Makkah sudah tampak. Ini seharusnya menjadi tanda berakhirnya pertempuran, tetapi pada akhirnya tidak demikian.
Dua pasukan kavaleri sayap masih berdiri kokoh di posnya. Sayap kiri dipimpin Ikrimah bin Abu Jahl dan sayap kanan dipimpin Khalid ibn Al-Walid. Khalid memperhatikan situasi pasukan infantri yang telah kacau dan melarikan diri, kemudian mengetahui bahwa perkemahan mereka telah direbut oleh muslim, dan ia juga masih terus memperhatikan pasukan pemanah di bukit Ainain yang terus menghambat langkahnya untuk maju. Khalid tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tetapi ia mampu bertahan dengan kesabaran tinggi dan menunggu kesempatan pasukannya untuk bergerak. Segera, kesabarannya membuahkan hasil.
Ketika Muhammad menyadari kesalahan fatal yang dilakukan oleh pasukan pemanah di Ainain, ia tidak bisa mengontrol pasukan yang terjebak di bagian utama pertempuran karena jaraknya terlalu jauh. Ia memutuskan untuk turun ke belakang bukit dan akhirnya ia meladeni pasukan Ikrimah yang menyerangnya. 30 pasukan Muhammad melindungi Muhammad mati-matian karena Muhammad adalah orang yang paling dicari oleh pasukan Quraisy. Muhammad sendiri terus bertempur dengan panahnya sampai busurnya patah. Setiap satu orang di antara 30 orang itu harus menghadapi sekitar tiga sampai empat orang dan akhirnya gugur atau terluka atau berhasil setidaknya menghalau musuhnya.
Ali dengan keahlian pedangnya berhasil membunuh setidaknya dua orang dari penyerang. Quraisy pun mulai menghujani kelompok Muhammad dengan panah dan batu. Untuk melindungi Muhammad dari panah, Abu Dujanah berdiri menghadap Muhammad dan punggungnya menghadap ke penyerang. Punggungnya penuh dengan panah yang menusuk sampai ia terlihat seperti trenggiling, tetapi ia terus memberikan panah yang bisa ia berikan pada Sa'ad yang tetap berdiri dan memanah di samping Muhammad. Talha melakukan hal serupa dengan Abu Dujanah. Ketika ada panah yang tertuju pada wajah Muhammad, ia menghalanginya dengan tangan dan menangkapnya. Konsekuensinya, ia kehilangan satu jari.
Serangan pasukan Ikrimah sedikit mengendur untuk sedikit beristirahat sebelum melakukan serangan berikutnya. Dalam masa yang agak kendur ini, seorang muslim melihat Muhammad melihat ke sekelilingnya dan ia pun bertanya langsung pada Muhammad tentang apa yang dilakukan Muhammad itu. Muhammad menjwab, "Aku menunggu Ubay bin Khalf. Dia mungkin mendekatiku dari belakang. Jika ia datang, niarkan dia mendekatiku." Baru saja ia mengatakan ini, seorang laki-laki meninggalkan kelompok berkuda Ikrimah. Laki-laki ini ternyata Ubay bin Khalf, berkuda cukup besar dan perlahan mendekati Muhammad. Laki-laki ini berteriak, "Hei Muhammad! Saya datang! Kamu atau aku yang akan mati!" Dalam situasi ini, beberapa orang sahabat meminta izin untuk menghadapi laki-laki tadi, tetapi ditolak oleh Muhammad, bahkan diperintahkan memberi jalan untuk laki-laki tadi.
Pada Pertempuran Badr setahun sebelumnya, anak Ubay ditawan dan ia menebus anaknya 4.000 dirham. Ia sempat menantang Muhammad ketika masih di Madinah membebaskan anaknya itu, "Hei Muhammad! Aku punya seekor kuda yang sedang kuperkuat dengan makanan yang banyak karena pada pertempuran berikutnya, aku akan mengendarai kuda itu dan aku pasti membunuhmu." Saat itu Muhammad menjawab, "Tidak, kamu tidak akan membunuhku. Tetapi aku yang akan membunuhmu di atas kudamu itu, insya Allah(jika Allah menghendaki)." Ubay tertawa terbahak-bahak dan pergi dengan anaknya.
Kembali ke Pertempuran Uhud, Ubay sekarang mendekati Muhammad untuk memenuhi ucapannya. Ia melihat para sahabat Muhammad memberikannya jalan dan Muhammad terlihat menunggunya. Ia pun mengakui sikap ksatria yang dimiliki lawannya. Muhammad dalam pertempuran kali ini menggunakan dua lapis zirah yang berbentuk mail (semacam baju perang yang dibuat dari rantai-rantai besi yang kecil dan saling mengikat, sering terlihat dalam film-film pertempuran Hollywood, misalnya yang dipakai pasukan elit Kerajaan Inggris dalam film Braveheart-pen). Ia juga memakai helm sejenis dan pipinya dilindungi terusan logam fleksibel dari helmnya. Pedangnya tersarung di ikat pinggang kulit dan tangan kanannya memegang tombak. Bahunya tampak kuat. Sangat sedikit diketahui oleh orang-orang zaman sekarang bahwa Muhammad adalah salah satu muslim terkuat di masanya. Ia pernah mengalahkan pegulat tidak terkalahkan di Makkah.
Dalam kesempatan ini, Muhammad bisa saja memerintahkan Ali, prajurit terkuatnya setelah Hamzah gugur, untuk membelah Ubay menjadi dua. Tetapi kali ini, ia tidak mengharapkan bantuan siapa pun. Pertarungan ini sudah menyangkut masalah harga diri dan sikap ksatria. Ia telah ditantang satu tahun sebelumnya dan ia akan menjawab tantangan tersebut.
Ketika Ubay tiba di dekat Muhammad, ia menarik kudanya. Dia tidak terlalu terburu-buru. Ia terlalu lambat dalam mengayunkan pedang dan ia baru sadar bahwa gerakan Muhammad jauh lebih cepat. Tombak Muhammad menembus dada dekat bahu kanannya, sedkit dekat dengan leher. Lukanya tidak terlalu parah, tetapi Ubay terjatuh dari kuda dan mematahkan satu tulang rusuknya. Sebelum Muhammad menyerang kembali, Ubay berdiri dan lari tunggang langgang berteriak ke arah rekan-rekannya. Rekan-rekannya menghentikannya dan bertanya mengapa ia ketakutan. Ubay berkata dengan tubuh bergetar, "Demi Allah, Muhammad telah membunuhku." Rekannya memeriksa lukanya dan mengatakan bahwa lukanya tidak seberapa. Tetapi Ubay mengeraskan suaranya, "Aku pasti mati!" Rekannya mencoba menenangkannya, tetapi Ubay lepas kontrol dan berkata, "Aku katakan, aku pasti mati! Muhammad telah mengatakan padaku bahwa dia akan membunuhku. Bahkan jika Muhammad hanya meludahiku, aku akan mati!" Ketika pasukan Quraisy nantinya pulang ke Madinah, Ubay tewas tanpa diketahui sebabnya. Lukanya sebenarnya masih bisa sembuh. Kemungkinan ia tewas karena infeksi pada lukanya itu.
Kembali ke pertempuran secara keseluruhan, Abu Sufyan dan Khalid tidak bisa segera mengakhiri pertempuran karena pasukan muslim sangat ngotot untuk mempertahankan posisinya. Quraisy memutuskan untuk memusatkan serangan pada kelompok Muhammad karena kematiannya pasti akan berpengaruh besar pada moral pasukan muslim. Beberapa pasukan Muhammad gugur dan sekitar tiga Quraisy bisa melempari Muhammad dari dekat dengan batu. Mereka adalah Utbah bin Abi Waqqas, Abdullah bin Syahab, dan Ibn Qamiah
Empat lemparan Utbah mengenai wajah Muhammad, mematahkan dua gigi bawahnya dan merobek bibirnya. Satu lemparan Abdullah melukai kening Muhammad dan satu lemparan Ibn Qamiah melukai pipi serta mengakibatkan potongan rantai pada helmnya menusuk tulang pipinya. Muhammad pun jatuh dari kudanya dan dibantu Talha yang masih hidup dengan segenap luka yang ia miliki. Beberapa sahabat Muhammad berhasil menghalau tiga orang ini. Sa'ad hapir membunuh saudaranya, tetapi Utbah lolos. Abu Ubaidah berhasil menarik potongan rantai dari pipi Muhammad dengan giginy. Akhirnya, ia juga harus kehilangan dua giginya.
Ibn Qamiah maju kembali dan mengira Mush'ab bin Umair adalah Muhammad. Mereka berduel dan Mush'ab gugur. Ummu Ammarah, seorang wanita yang sebelumnya hanya mengangkut air minum, ikut bertempur melindungi Muhammad. Ia menyabetkan pedang ke bahu Ibn Qamiah. Tetapi sabetannya kurang bertenaga dan dihalangi oleh zirah rantai yang dipakai Ibn Qamiah. Ibn Qamiah membalas dengan terburu-buru dan membuat luka yang cukup dalam di bahu Ummu Ammarah. Ummu Ammarah masih bisa bertahan, tetapi tidak bisa bergerak untuk sesaat.
Ibn Qamiah langsung menyadari bahwa ia salah membunuh. Ia melihat Muhammad dan menyerangnya dengan sabetan di kepala Muhammad. Helm rantai Muhammad terpotong, tetapi kepalanya tidak terluka. Ibn Qamiah lalu menusuk bahu kanan Muhammad yang terlindungi dengan zirah dan Muhammad jatuh di cekungan dangkal yang ada di belakangnya. Muhammad diangkat oleh Ali dan Talha.
Tetapi Ibn Qamiah salah mengira bahwa Muhammad telah tewas dan berteriak, "Aku telah membunuh Muhammad! Aku telah membunuh Muhammad!" Kabar salah ini menyebar di seluruh pasukan. Semangat pasukan muslim jatuh dan banyak di antara mereka lari ke arah Bukit Uhud. Sebagian lagi tetap bertahan dan menganggap tidak ada gunanya lagi hidup. Mereka merangsek ke tengah-tengah kerumunan pasukan Quraisy dan melakukan serangan terus-menerus sampai mereka gugur.
Karena bagian utama dari dari pasukan muslim mundur ke bukit, banyak pasukan Quraisy mengambil barang-barang yang ditinggalkan oleh korban tewas sebagai harta rampasan perang. Kelompok Muhammad pun bebas dari kepungan pasukan Quraisy yang sebelumnya sangat gencar menyerang. Kelompok Muhammad akhirnya mundur ke bagian agak tengah dari bukit dan menyaksikan panorama tragis yang terbentang di depannya (lihat Gambar 4). Dari 30 orang pasukan kelompok Muhammad, hanya tersisa 14 orang.
Pasukan muslim meninggalkan lapangan pertempuran. Beberapa orang ada yang kabur sejauh-jauhnya, beberapa lari ke Madinah, beberapa yang lain tidak bergabung dengan Muhammad sampai dua hari berikutnya. Sedangkan mereka yang berlindung di Bukit Uhud bergerak dalam grup-grup kecil. Ka'ab bin Malik, salah seorang sahabat Muhammad berhasil menemukan Muhammad dan dengan suaranya yang lantang berteriak, "Berbahagialah Muslimin! Rasul Allah ada di sini!" Karena teriakan ini, banyak grup-grup kecil tadi berkumpul di sisi Muhammad. Teriakan ini tidak terdengar oleh pasukan Quraisy.
Abu Sufyan kebingungan karena tidak menemukan mayat Muhammad. Ia pun diberi tahu oleh Khalid bahwa Muhammad berhasil lolos ke bukit. Abu Sufyan memerintahkan Khalid untuk menyerang.
Komentar
Posting Komentar