Di antara nabi-nabi palsu yang beraksi setelah Aswaf tewas, yang harus pertama kali dihadapi oleh muslim adalah Tulaiha bin Khuwailid. Dia adalah kepala suku Bani Asad dan telah melawan Muhammad bertahun-tahun.
Kebenciannya pada Islam pertama kali dipertunjukkan 3 bulan setelah Pertempuran Uhud. Menganggap bahwa Madinah telah "terluka parah" dalam pertempuran itu, ia bermaksud memimpin pasukan sukunya untuk menyerbu Madinah. Namun maksud buruknya ini diketahui oleh Muhammad dan ia mengirimkan 150 pasukan berkuda. Pasukan Tulaiha kabur sebelum bertempur ketika mendengar kabar tentang kedatangan pasukan berkuda itu. Tulaiha pun untuk sementara dianggap sebagai pembohong oleh sukunya karena hal ini.
Kemudian ia turut serta dalam mengepung Madinah dalam Pertempuran Parit. Dia dengan sangat bersemangat memenuhi undangan Yahudi untuk menggempur muslim. Karena pertempuran ini juga gagal, ia kembali ke sukunya dalam keadaan tidak menyenangkan.
Kesempatan berikutnya untuk melawan Islam adalah ekspedisi menyerbu Yahudi di Khaybar tahun 628 M-7 H. Bani Asad dipimpin oleh Tulaiha berpihak pada Yahudi. Beberapa kali pasukannya melakukan bentrokan ringan dan selalu berakhir buruk untuk Tulaiha. Ia pun pergi dan meninggalkan Yahudi.
Dua tahun kemudian, pada "Tahun Delegasi", Bani Asad mengirim sebuah delegasi ke Madinah untuk menyerahkan diri mereka pada Muhammad dan Islam. Keseluruhan suku, termasuk Tulaiha masuk Islam. Tetapi seperti kebanyakan suku-suku Arab masuk Islam lebih karena alasan politis daripada keimanan sejati. Tulaiha sendiri masih menjalankan kebiasaannya sebelum Islam, seperti meramal dan menerawang.
Ketika Muhammad sakit, beberapa hari sebelum Muhammad wafat, Tulaiha mengumumkan kebebasan sukunya dan ia mendeklarasikan diri sebagai nabi palsu. Ia mengajak masyarakatnya untuk mengikutinya dan kebanyakan menyambut ajakan itu. Ia diangkat sebagai nabi dan kepala oleh sukunya, Bani Asad. Ia juga mengusir pemungut pajak di daerahnya, seorang pemuda pemberani yang namanya akan terkenal di bawah kepemimpinan Khalid, Barar bin Al-Azwar.
Setelah memproklamasikan kenabiannya, Tulaiha merasa perlu untuk melakukan sesuatu pada agamanya untuk membuktikan diri sebagai nabi. Ia menghapuskan gerakan sujud dalam shalat yang diajarkan dalam Islam. Pengikutnya bertambah dan ia mendapat dukungan dari suku-suku utama di Arab utara-tengah: Ghatfan dan Tayy. Dukungan juga datang dari Hawazin dan Bani Sulaym meskipun kedua suku ini tidak bertempur di bawah bendera Tulaiha.
Perorangan paling berpengaruh yang mendukung Tulaiha adalah Uyainah bin Hisn, kepala suku klan Bani Fazara bermata satu. Klan ini adalah salah satu klan terkuat dalam Suku Ghatfan. Ia memimpin kontingen pasukan Ghatfan dalam Pertempuran Parit. Ia membuat hampir seluruh klan di Ghatfan mendukung Tulaiha meskipun ia mendukung Tulaiha hanya karena Tulaiha dan sukunya telah menjadi sekutu Ghatfan sejak lama.
Tulaiha mengumpulkan Bani Asad di Samira. Ghatfan tinggal di daerah sekitarnya dan segera bergabung dengannya. Tayy berdiam di utara dan timur laut Khaybar, sebuah kontingen pasukan kecil bergabung di Samira. Di Samira, Tulaiha mempersiapkan diri untuk menghancurkan kekuatan Madinah dan Islam.
Ia sempat mengirimkan pasukan pembantu ketika suku-suku di Abraq berupaya menyerang Madinah seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Ketika Zhu Qissa dan Abraq sedang direbut oleh muslim, Tulaiha memindahkan markasnya ke Buzakha.
Di Buzakha, persiapan Tulaiha maju dengan pesat. Ia mengirim banyak kurir ke berbagai klan, mengundang mereka untuk bergabung dengannya. Banyak klan yang menyambut ajakannya. Uyaina membawa 700 pasukan dari Bani Fazara. Kelompok terbesar dalah dari Bani Asad dan Ghatfan. Kontingen utama dari Tayy belum tiba di sana. Tulaiha telah siap untuk bertempur ketika Khalid berangkat dengan pasukannya di Zhu Qissa.
Sebelu melepaskan Khalid, Abu Bakr telah melakukan usaha-usaha untuk melemahkan pasukan musuh sehingga kemungkinan kemenangan dalam pertempuran dapat diperbesar. Bani Asad dan Ghatfan hampir tidak mungkin untuk dilepaskan dari Tulaiha. Tetapi Tayy berkarakter lain. Kepala suku mereka masih merupakan muslim, Adi bin Hatim. Ia telah berupaya untuk memadamkan kenabian palsu di sukunya, tetapi gagal. Akhirnya ia bersama beberapa pengikut Islam di sukunya pergi dan bergabung dengan pasukan khalifah. Abu Bakr bermaksud untuk membuat Tayy melepaskan diri dari persekutuannya dengan Tulaiha. Jika bujukan untuk kembali kepada Madinah dan Islam gagal, Abu Bakr bermaksud langsung menghancurkan Tayy di tempatnya sehingga Tulaiha tidak bisa lagi mengharapkan bantuan dari Tayy.
Abu Bakr mengirim Adi ke sukunya bersama Khalid yang membawa 4.000 pasukan. Setiba di tempat suku Tayy berdiam, Adi mengajak kaumnya kembali pada Islam. Tetapi kaumnya menolak dan Adi hanya bisa memperingatkan mereka bahwa mereka akan diperangi. Peringatan itu membuat para tetua berpikir kembali dan berkata bahwa anak-anak mereka bersama Tulaiha dan mereka meminta waktu untuk mengambil anak-anak mereka kembali karena jika mereka melepaskan perjanjian dengan Tulaiha, anak-anak mereka yang menjadi pasukan Tulaiha akan dijadikan tawanan.
Adi menyampaikan hal ini di perkemahan pasukan Khalid, tetapi Khalid sangat tegas dan tidak mau membuang waktu. Ia tidak bisa dengan mudah mempercayai orang yang murtad. Adi meminta dengannya dan akhirnya Khalid memberikan kesempatan tiga hari.
Tetua Suku Tayy kemudian mengirimkan beberapa kavaleri kepada Tulaiha seolah-olah sebagai pasukan tambahan. Tetapi secara rahasia, mereka menarik pasukan mereka. Hanya sedikit yang tersisa. Dalam waktu senggangnya, Khalid memutuskan untuk menyerbu Suku Jadila yang tinggal berdekatan dengan Suku Tayy. Namun Adi berusaha keras untuk tidak terjadi pertumpahan darah. Ia mengajak suku itu kembali pada Islam dan ternyata suku tersebut kembali pada Islam dan 1.000 orang dari mereka memperkuat pasukan Khalid. Kemudian 500 orang pasukan berkuda dari Suku Tayy juga memperkuat pasukan Khalid.
Khalid dan pasukannya berjalan menuju Buzakha. Ia juga mengirim dua orang mata-mata. Di tengah misinya, Ukasha, salah seorang sahabat terdekat Muhammad, berhasil membunuh Hibal, adik Tulaiha, yang juga sedang menjalankan tugas mata-mata. Sayang rekannya lolos dan melaporkan hal ini kepada Tulaiha. Tulaiha marah dan bersama Salma, adiknya yang lain, pergi mengejar Ukasha dan rekan muslimnya. Mereka bertemu dan bertarung. Salma dan Tulaiha berhasil membunuh kedua mata-mata muslim tadi. Tubuh mereka dikuburkan dalam keadaan duka ketika pasukan Khalid melewati jasad mereka yang ditinggal oleh Tulaiha.
Ketika Khalid berada di bagian seatan dataran Buzakha, ia membuat kemah dekat dengan kemah pasukan Tulaiha. Keesokan harinya, dua pasukan berhadapan. Pasukan Khalid bertambah menjadi 6.000 karena di tengah perjalanan, ia merekrut beberapa pasukan baru. Jumlah pasukan Tulaiha tidak diketahui secara rinci, tetapi diperkirakan lebih banyak daripada muslim. Hari itu adalah pertengahan September 632 M atau akhir Jumadil Akhir 11 H.
Khalid secara langsung memimpin pasukannya di depan. Sedangkan Tulaiha menunjuk Uyainah sebagai panglima. Uyainah berdiri di tengah pasukan yang 700 orang di antara pasukan tengah ini adalah pasukan Bani Fazara, klannya Uyainah. Sedangkan Sang Penipu sendiri duduk di dalam sebuah tenda dalam keadaan bermeditasi, menurutnya sedang menunggu kabar dari Jibril, malaikat Allah.
Segera setelah kedua pasukan berbaris, Khalid melancarkan serangan di sepanjang barisan depan. Pasukan pengikut nabi palsu memberikan perlawanan yang cukup sengit. Namun seiring dengan waktu, pasukan muslim terlihat lebih unggul. Uyainah dua kali bolak-balik kepada Tulaiha bertanya apakah Jibril telah memberi kabar. Tulaiha berkata belum. Sementara pasukannya semakin terdesak, Uyainah kembali pada Tulaiha dan Tulaiha malah menjawab bahwa Jibril berkata sesuatu yang tidak jelas. Uyainah meledak dan kembali kepada anggota klannya untuk menarik diri dari pertempuran karena ia menyadari bahwa Tulaiha adalah penipu.
Bani Fazara yang menjadi inti dari pasukan Tulaiha pergi dan kondisi mereka semakin terjepit. Tulaiha sendiri memberi perintah untuk melarika diri dari pertempuran dan dia adalah yang pertama kabur. Pertempuran Buzakha berakhir dengan hancurnya pasukan kedua yang paling berbahaya setelah pasukan Musailimah nanti akan segera dihadapi.
Bani Asad akhirnya kembali pada Islam dan Tulaiha mengikuti. Ia diampuni secara hukum, tetapi para sahabat tidak bisa begitu saja akrab dengannya setelah ia membunuh dua orang mata-mata seperti diterangkan di atas. Ia akhirnya gugur dalam Pertempuran Niwahand melawan Persia beberapa tahun berikutnya sebagai seorang muslim.
Segera setelah pertempuran usai, Khalid mengririm sepasukan kecil untuk mengejar pasukan musuh yang melarikan diri sekaligus menaklukkan suku-suku di sekitarnya. Suku yang mereka temui menyerah dan masuk Islam kembali. Sedangkan Khalid membawa sepasukan yang cukup besar dan bergerak cepat mengejar Uyainah yang kabur ke tenggara bersama pasukan Bani Fazara dan beberapa elemen Bani Asad. Ia terkejar dan bertarung kembali. Uyainah tetap ditangkap. Uyainah ternyata belum masuk Islam sebelumnya sehingga tidak dikategorikan sebagai murtad. Ia pun diampuni oleh Abu Bakr dan masuk Islam.
Khalid melanjutkan perjalanannya ke Naqra di mana beberapa klan dari Bani Sulaim berkumpul. Pasukan inipun dihancurkan dengan mudah oleh Khalid. Kemenangan Khalid ini diikuti dengan masuk Islamnya Bani Amir dan beberapa klan dari Suku Hawazin kembali masuk Islam. Tetapi Khalid cukup teliti dan mengingat pesan dari Abu Bakr untuk menghukum para pembunuh muslim seperti diceritakan pada bagian pertama bab ini. Semua suku bersedia dan menyerahkan para penjahat tersebut. Mereka menerima hukum Qishash, mendapatkan yang sama dengan apa yang diperoleh oleh orang-orang muslim yang mereka bunuh.
Khalid mengirimkan surat kepada Abu Bakr bahwa misi pertamanya telah usai. Abu Bakr mengirim balasan ucapan selamat dan doa untuk keberhasilan misi berikutnya.
Kebenciannya pada Islam pertama kali dipertunjukkan 3 bulan setelah Pertempuran Uhud. Menganggap bahwa Madinah telah "terluka parah" dalam pertempuran itu, ia bermaksud memimpin pasukan sukunya untuk menyerbu Madinah. Namun maksud buruknya ini diketahui oleh Muhammad dan ia mengirimkan 150 pasukan berkuda. Pasukan Tulaiha kabur sebelum bertempur ketika mendengar kabar tentang kedatangan pasukan berkuda itu. Tulaiha pun untuk sementara dianggap sebagai pembohong oleh sukunya karena hal ini.
Kemudian ia turut serta dalam mengepung Madinah dalam Pertempuran Parit. Dia dengan sangat bersemangat memenuhi undangan Yahudi untuk menggempur muslim. Karena pertempuran ini juga gagal, ia kembali ke sukunya dalam keadaan tidak menyenangkan.
Kesempatan berikutnya untuk melawan Islam adalah ekspedisi menyerbu Yahudi di Khaybar tahun 628 M-7 H. Bani Asad dipimpin oleh Tulaiha berpihak pada Yahudi. Beberapa kali pasukannya melakukan bentrokan ringan dan selalu berakhir buruk untuk Tulaiha. Ia pun pergi dan meninggalkan Yahudi.
Dua tahun kemudian, pada "Tahun Delegasi", Bani Asad mengirim sebuah delegasi ke Madinah untuk menyerahkan diri mereka pada Muhammad dan Islam. Keseluruhan suku, termasuk Tulaiha masuk Islam. Tetapi seperti kebanyakan suku-suku Arab masuk Islam lebih karena alasan politis daripada keimanan sejati. Tulaiha sendiri masih menjalankan kebiasaannya sebelum Islam, seperti meramal dan menerawang.
Ketika Muhammad sakit, beberapa hari sebelum Muhammad wafat, Tulaiha mengumumkan kebebasan sukunya dan ia mendeklarasikan diri sebagai nabi palsu. Ia mengajak masyarakatnya untuk mengikutinya dan kebanyakan menyambut ajakan itu. Ia diangkat sebagai nabi dan kepala oleh sukunya, Bani Asad. Ia juga mengusir pemungut pajak di daerahnya, seorang pemuda pemberani yang namanya akan terkenal di bawah kepemimpinan Khalid, Barar bin Al-Azwar.
Setelah memproklamasikan kenabiannya, Tulaiha merasa perlu untuk melakukan sesuatu pada agamanya untuk membuktikan diri sebagai nabi. Ia menghapuskan gerakan sujud dalam shalat yang diajarkan dalam Islam. Pengikutnya bertambah dan ia mendapat dukungan dari suku-suku utama di Arab utara-tengah: Ghatfan dan Tayy. Dukungan juga datang dari Hawazin dan Bani Sulaym meskipun kedua suku ini tidak bertempur di bawah bendera Tulaiha.
Perorangan paling berpengaruh yang mendukung Tulaiha adalah Uyainah bin Hisn, kepala suku klan Bani Fazara bermata satu. Klan ini adalah salah satu klan terkuat dalam Suku Ghatfan. Ia memimpin kontingen pasukan Ghatfan dalam Pertempuran Parit. Ia membuat hampir seluruh klan di Ghatfan mendukung Tulaiha meskipun ia mendukung Tulaiha hanya karena Tulaiha dan sukunya telah menjadi sekutu Ghatfan sejak lama.
Tulaiha mengumpulkan Bani Asad di Samira. Ghatfan tinggal di daerah sekitarnya dan segera bergabung dengannya. Tayy berdiam di utara dan timur laut Khaybar, sebuah kontingen pasukan kecil bergabung di Samira. Di Samira, Tulaiha mempersiapkan diri untuk menghancurkan kekuatan Madinah dan Islam.
Ia sempat mengirimkan pasukan pembantu ketika suku-suku di Abraq berupaya menyerang Madinah seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Ketika Zhu Qissa dan Abraq sedang direbut oleh muslim, Tulaiha memindahkan markasnya ke Buzakha.
Di Buzakha, persiapan Tulaiha maju dengan pesat. Ia mengirim banyak kurir ke berbagai klan, mengundang mereka untuk bergabung dengannya. Banyak klan yang menyambut ajakannya. Uyaina membawa 700 pasukan dari Bani Fazara. Kelompok terbesar dalah dari Bani Asad dan Ghatfan. Kontingen utama dari Tayy belum tiba di sana. Tulaiha telah siap untuk bertempur ketika Khalid berangkat dengan pasukannya di Zhu Qissa.
Sebelu melepaskan Khalid, Abu Bakr telah melakukan usaha-usaha untuk melemahkan pasukan musuh sehingga kemungkinan kemenangan dalam pertempuran dapat diperbesar. Bani Asad dan Ghatfan hampir tidak mungkin untuk dilepaskan dari Tulaiha. Tetapi Tayy berkarakter lain. Kepala suku mereka masih merupakan muslim, Adi bin Hatim. Ia telah berupaya untuk memadamkan kenabian palsu di sukunya, tetapi gagal. Akhirnya ia bersama beberapa pengikut Islam di sukunya pergi dan bergabung dengan pasukan khalifah. Abu Bakr bermaksud untuk membuat Tayy melepaskan diri dari persekutuannya dengan Tulaiha. Jika bujukan untuk kembali kepada Madinah dan Islam gagal, Abu Bakr bermaksud langsung menghancurkan Tayy di tempatnya sehingga Tulaiha tidak bisa lagi mengharapkan bantuan dari Tayy.
Abu Bakr mengirim Adi ke sukunya bersama Khalid yang membawa 4.000 pasukan. Setiba di tempat suku Tayy berdiam, Adi mengajak kaumnya kembali pada Islam. Tetapi kaumnya menolak dan Adi hanya bisa memperingatkan mereka bahwa mereka akan diperangi. Peringatan itu membuat para tetua berpikir kembali dan berkata bahwa anak-anak mereka bersama Tulaiha dan mereka meminta waktu untuk mengambil anak-anak mereka kembali karena jika mereka melepaskan perjanjian dengan Tulaiha, anak-anak mereka yang menjadi pasukan Tulaiha akan dijadikan tawanan.
Adi menyampaikan hal ini di perkemahan pasukan Khalid, tetapi Khalid sangat tegas dan tidak mau membuang waktu. Ia tidak bisa dengan mudah mempercayai orang yang murtad. Adi meminta dengannya dan akhirnya Khalid memberikan kesempatan tiga hari.
Tetua Suku Tayy kemudian mengirimkan beberapa kavaleri kepada Tulaiha seolah-olah sebagai pasukan tambahan. Tetapi secara rahasia, mereka menarik pasukan mereka. Hanya sedikit yang tersisa. Dalam waktu senggangnya, Khalid memutuskan untuk menyerbu Suku Jadila yang tinggal berdekatan dengan Suku Tayy. Namun Adi berusaha keras untuk tidak terjadi pertumpahan darah. Ia mengajak suku itu kembali pada Islam dan ternyata suku tersebut kembali pada Islam dan 1.000 orang dari mereka memperkuat pasukan Khalid. Kemudian 500 orang pasukan berkuda dari Suku Tayy juga memperkuat pasukan Khalid.
Khalid dan pasukannya berjalan menuju Buzakha. Ia juga mengirim dua orang mata-mata. Di tengah misinya, Ukasha, salah seorang sahabat terdekat Muhammad, berhasil membunuh Hibal, adik Tulaiha, yang juga sedang menjalankan tugas mata-mata. Sayang rekannya lolos dan melaporkan hal ini kepada Tulaiha. Tulaiha marah dan bersama Salma, adiknya yang lain, pergi mengejar Ukasha dan rekan muslimnya. Mereka bertemu dan bertarung. Salma dan Tulaiha berhasil membunuh kedua mata-mata muslim tadi. Tubuh mereka dikuburkan dalam keadaan duka ketika pasukan Khalid melewati jasad mereka yang ditinggal oleh Tulaiha.
Ketika Khalid berada di bagian seatan dataran Buzakha, ia membuat kemah dekat dengan kemah pasukan Tulaiha. Keesokan harinya, dua pasukan berhadapan. Pasukan Khalid bertambah menjadi 6.000 karena di tengah perjalanan, ia merekrut beberapa pasukan baru. Jumlah pasukan Tulaiha tidak diketahui secara rinci, tetapi diperkirakan lebih banyak daripada muslim. Hari itu adalah pertengahan September 632 M atau akhir Jumadil Akhir 11 H.
Khalid secara langsung memimpin pasukannya di depan. Sedangkan Tulaiha menunjuk Uyainah sebagai panglima. Uyainah berdiri di tengah pasukan yang 700 orang di antara pasukan tengah ini adalah pasukan Bani Fazara, klannya Uyainah. Sedangkan Sang Penipu sendiri duduk di dalam sebuah tenda dalam keadaan bermeditasi, menurutnya sedang menunggu kabar dari Jibril, malaikat Allah.
Segera setelah kedua pasukan berbaris, Khalid melancarkan serangan di sepanjang barisan depan. Pasukan pengikut nabi palsu memberikan perlawanan yang cukup sengit. Namun seiring dengan waktu, pasukan muslim terlihat lebih unggul. Uyainah dua kali bolak-balik kepada Tulaiha bertanya apakah Jibril telah memberi kabar. Tulaiha berkata belum. Sementara pasukannya semakin terdesak, Uyainah kembali pada Tulaiha dan Tulaiha malah menjawab bahwa Jibril berkata sesuatu yang tidak jelas. Uyainah meledak dan kembali kepada anggota klannya untuk menarik diri dari pertempuran karena ia menyadari bahwa Tulaiha adalah penipu.
Bani Fazara yang menjadi inti dari pasukan Tulaiha pergi dan kondisi mereka semakin terjepit. Tulaiha sendiri memberi perintah untuk melarika diri dari pertempuran dan dia adalah yang pertama kabur. Pertempuran Buzakha berakhir dengan hancurnya pasukan kedua yang paling berbahaya setelah pasukan Musailimah nanti akan segera dihadapi.
Bani Asad akhirnya kembali pada Islam dan Tulaiha mengikuti. Ia diampuni secara hukum, tetapi para sahabat tidak bisa begitu saja akrab dengannya setelah ia membunuh dua orang mata-mata seperti diterangkan di atas. Ia akhirnya gugur dalam Pertempuran Niwahand melawan Persia beberapa tahun berikutnya sebagai seorang muslim.
Segera setelah pertempuran usai, Khalid mengririm sepasukan kecil untuk mengejar pasukan musuh yang melarikan diri sekaligus menaklukkan suku-suku di sekitarnya. Suku yang mereka temui menyerah dan masuk Islam kembali. Sedangkan Khalid membawa sepasukan yang cukup besar dan bergerak cepat mengejar Uyainah yang kabur ke tenggara bersama pasukan Bani Fazara dan beberapa elemen Bani Asad. Ia terkejar dan bertarung kembali. Uyainah tetap ditangkap. Uyainah ternyata belum masuk Islam sebelumnya sehingga tidak dikategorikan sebagai murtad. Ia pun diampuni oleh Abu Bakr dan masuk Islam.
Khalid melanjutkan perjalanannya ke Naqra di mana beberapa klan dari Bani Sulaim berkumpul. Pasukan inipun dihancurkan dengan mudah oleh Khalid. Kemenangan Khalid ini diikuti dengan masuk Islamnya Bani Amir dan beberapa klan dari Suku Hawazin kembali masuk Islam. Tetapi Khalid cukup teliti dan mengingat pesan dari Abu Bakr untuk menghukum para pembunuh muslim seperti diceritakan pada bagian pertama bab ini. Semua suku bersedia dan menyerahkan para penjahat tersebut. Mereka menerima hukum Qishash, mendapatkan yang sama dengan apa yang diperoleh oleh orang-orang muslim yang mereka bunuh.
Khalid mengirimkan surat kepada Abu Bakr bahwa misi pertamanya telah usai. Abu Bakr mengirim balasan ucapan selamat dan doa untuk keberhasilan misi berikutnya.
Komentar
Posting Komentar